Strategi Efisiensi Anggaran: Lihatlah Potensi Daerah

Ilustrasi --Foto Antara
Oleh Afut Syafril Nursyirwan
BABELPOS.ID - Ada dua reaksi ketika mendapatkan tantangan, reaksi pesimis dan reaksi optimis.
Reaksi pesimis merupakan respons atas ketidakmampuan dengan perhitungan besarnya masalah atas kemampuan yang dimiliki, umumnya mengeluh serta mencari indikator kelemahan diri.
Sedangkan, para penggemar optimisme lebih melihat pada peluang dari munculnya sebuah tantangan. Biasanya, kaum ini tidak mengeluh saja karena mengeluh dianggap hanya menghabiskan waktu.
Meminjam kacamata optimisme persoalan strategi efisiensi di era kepemimpinan Presiden Prabowo, tentu saja bukan hal yang mudah, mengingat pemangkasan anggaran bahkan mencapai 50 persen di beberapa sektor.
Efek dominonya tentu saja ada, khususnya secara ekonomi. Sebut saja perjalanan dinas, industri perhotelan, tour and travel serta event organizer mitra pemerintah daerah pasti akan terdampak dan bisnis mereka ikut turun.
Meskipun satu dua hal terdampak secara ekonomi, namun sudah waktunya pemerintah daerah atau lembaga terkait yang mendapat peluit efisiensi harus memiliki strategi dalam melaksanakan serapan anggaran.
Meminjam pemikiran dari Pengamat Ekonomi Universitas Riau Dahlan Tampubolon, salah satu penyebab munculnya efisiensi adalah besarnya utang jatuh tempo yang mencapai Rp1.353 triliun dan yang harus dibayarkan sebesar Rp803 triliun.
Tidak semua kementerian dan lembaga dipotong anggarannya, ada juga kementerian yang masih bisa lapang dalam menjalankan belanjanya, seperti Kementerian Pertahanan, Kepolisian dan Kejaksaan Agung.
Kementerian Keuangan memangkas anggaran sebesar 306,6 triliun dari 16 pos pengeluaran, terdiri dari 256,1 triliun rupiah belanja K/L dan termasuk 50,5 triliun rupiah dana transfer ke daerah.
Dampak efisiensi dari sisi pertumbuhan ekonomi wilayah akan sedikit terkoreksi dari yang telah diprediksi namun tidak signifikan.
Janji Presiden bahwa penghematan untuk melakukan realokasi pada belanja-belanja yang lebih produktif termasuk hilirisasi tentu akan membawa dampak positif bagi daerah terutama belanja yang fokus pada menciptakan pertumbuhan ekonomi, produktivitas, peluang kerja, dan manfaat langsung bagi masyarakat.
Potensi daerah
Strategi paling realistis adalah pengurangan pemborosan dan pengelolaan anggaran yang lebih efisien. Misalnya, dengan menunda atau memangkas proyek yang tidak prioritas atau yang kurang mendesak.
Sudah waktunya pemerintah mengoptimalkan sumber pendapatan asli daerah, seperti pajak dan retribusi daerah, untuk menggantikan kekurangan yang berasal dari transfer pusat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: ant