Di ujung Kampung Baru dekat hutan bakau itu banyak PETI rajuk, padahal sungai-sungai itu dekat Pantai Serdang.
Di sini juga ada Pantai Cemara, Pantai Olivier dan Pantai Samak," tutur Minsawi.
Tekanan ekonomi yang dialami nelayan turut dirasakan anggota keluarga.
Satuniyah, istri seorang nelayan keturunan Bugis, mengatakan sebagian besar hasil tangkapan suaminya dijual kepada tengkulak.
Jika terdapat sisa, hasil laut tersebut baru digunakan untuk konsumsi keluarga.
Ketika cuaca buruk dan suaminya tidak bisa melaut, pekerjaan serabutan menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
BACA JUGA:Tambang Timah Ilegal Dihentikan, Siapa Bertanggung Jawab Memulihkan Sungai Kampung Pasir?
"Anak cucu kami orang Bugis campuran.
Hasil tangkapan suami itu dijual ke tengkulak, kecuali ada sisa untuk makan.
Jika angin kencang tidak melaut, kerja serabutan.
Anak kami tidak jadi nelayan.
Tidak ada anak muda di desa ini yang pergi melaut," ungkap Satuniyah.
Sementara itu, Suga, istri nelayan lainnya, mengaku keluarga nelayan belum memiliki kemampuan dan tenaga yang cukup untuk mengolah hasil tangkapan menjadi produk bernilai tambah.
"Kami tidak ada kemampuan untuk mengolah ikan.
Berjualan keliling juga tidak ada tenaga lagi," tuturnya.
Keluhan warga mengenai aktivitas tambang juga muncul di kawasan Embung Mempaya yang berada di ruas jalan Tanjung Pandan-Manggar.