Nelayan Olivier Belitung Timur Terhimpit Ongkos Melaut, Dihantui Preman Laut dan Tambang Ilegal
Kawasan Pantai Olivier, Belitung timur yang kerap dijadikan lokasi penambang melakukan Pertambangan ilegal (PETI).--
BABELPOS.ID, BELITUNG TIMUR - Kehidupan nelayan di kawasan Olivier, Kabupaten BELITUNG TIMUR, Kepulauan Bangka Belitung, semakin terhimpit.
Selain harus menghadapi tingginya biaya operasional melaut, mereka juga mengaku dihantui aksi perampasan hasil tangkapan oleh preman laut hingga aktivitas tambang timah ilegal di kawasan pesisir dan hutan bakau.
Kondisi tersebut membuat nelayan semakin kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga.
Persoalan lain yang mereka hadapi adalah ketergantungan kepada tengkulak, keterbatasan bantuan peralatan melaut, serta berkurangnya hasil tangkapan yang dirasakan dalam beberapa waktu terakhir.
Salah seorang nelayan Olivier, Raden, mengatakan biaya bahan bakar minyak (BBM) untuk sekali melaut bisa mencapai Rp 300 ribu.
Kebutuhan BBM berkisar 20-40 liter, bergantung pada jarak tempuh.
BACA JUGA:Menumbuhkan Harapan Melalui Pendidikan, PT TIMAH Membuka Peluang bagi Generasi Muda
"Ongkos melaut kini semakin mahal.
Sekali melaut butuh 20-40 liter untuk BBM.
Jika dekat 20 liter cukup.
Jadi hitungannya Rp 300 ribu modal sekali melaut.
Hasilnya, saat rezeki bagus, dapat bersih Rp 150-200 ribu," ujar Raden, Rabu (4/11/2026).
Menurutnya, persoalan nelayan tidak hanya berkaitan dengan biaya operasional.
Pemerataan bantuan peralatan melaut juga menjadi perhatian.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
