Nelayan Olivier Belitung Timur Terhimpit Ongkos Melaut, Dihantui Preman Laut dan Tambang Ilegal

Rabu 04-11-2026,12:09 WIB
Reporter : Agus Putra
Editor : Govin

Dia mengaku hanya memperoleh penghasilan bersih sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu dalam sehari.

Ketika musim buruk, pendapatannya bahkan turun menjadi Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu.

BACA JUGA:​Pernah 12 Hari Tak Bisa Melaut, Nelayan Pangkalpinang Mengadu ke DPRD Babel

Sementara itu, kebutuhan BBM untuk melaut berkisar 10-30 liter per hari dengan biaya yang dapat mencapai Rp 300 ribu.

Hairul mengatakan ikan dan udang yang dahulu mudah ditemukan di sekitar pantai kini semakin sulit diperoleh.

Dia menduga aktivitas tambang pada malam hari turut memengaruhi kondisi perairan dan hasil tangkapan nelayan.

"Ikan-ikan tidak ada lagi di pinggir karena mereka juga takut dengan tambang ilegal yang sering ada malam hari," ujarnya.

Meski demikian, hubungan antara aktivitas penambangan, kondisi kualitas air, dan penurunan hasil tangkapan masih memerlukan pemeriksaan lingkungan lebih lanjut untuk memastikan penyebabnya.

BACA JUGA:Vivo Y32 5G Diluncurkan, Begini Spesifikasi Lengkapnya

Nelayan lainnya, Minsawi, warga Desa Kurnia Jaya yang pernah bekerja di PT Timah pada 1981-1994, turut menceritakan perubahan kehidupan nelayan di kawasan tersebut.

Dia mengatakan, ketika kondisi cuaca memungkinkan, nelayan bisa menjangkau wilayah sekitar delapan mil ke arah Pekuk Limau hingga 36 mil menuju Belidang dan Pulau Sukun.

Namun, saat angin kencang, sebagian nelayan memilih tidak melaut.

Kondisi itu membuat sejumlah warga beralih mencari penghasilan melalui pekerjaan lain, termasuk menambang timah menggunakan metode rajuk.

BACA JUGA:Ini Cedera Kaki yang Berisiko Muncul Setelah Maraton

" Sekarang angin kencang jadi nelayan tidak ada yang ke laut.

Di Kampung Baru itu nelayan banyak ikut menambang timah, PETI rajuk dari jam 9 pagi sampai jam 4 sore.

Kategori :