Refleksi Kebudayaan di Negeri Akal Sehat yang (Katanya) Merdeka

Senin 17-08-2026,07:55 WIB
Reporter : Sukma Wijaya
Editor : Jal

Kita lebih sibuk mengimpor kebudayaan viral dari luar daripada mengkurasi kebudayaan akar kita sendiri. Akibatnya, anak muda kita lebih fasih menghafal koreografi asing daripada langkah silat dan tarian campak. Kita kehilangan dialek, kita kehilangan etika Melayu yang halus, yang mengajarkan malu bukan karena miskin harta, tetapi malu karena miskin adab.

BACA JUGA:Analisis Akademik Rencana Pembangunan Rumah Sakit Jantung dan Stroke Provinsi Babel Lewat Pinjaman Daerah

BACA JUGA:KDMP: Dari Ketahanan Pangan Menuju Pertambangan? Sebuah Penyimpangan Orientasi yang Patut Dikritisi

Pada 81 tahun ini, kita butuh dekolonisasi tahap kedua. Bukan lagi mengusir penjajah dari tanah, tetapi mengusir kelalaian dari kepala.

1. Ubah Anggaran Seremoni Menjadi Anggaran Ekosistem. Jangan lagi pelestarian adat diukur dari berapa banyak festival yang digelar. Ukurlah dari berapa banyak sanggar Melayu yang hidup, berapa banyak guru adat yang digaji layak, dan berapa banyak naskah lama yang dialihaksarakan menjadi konten digital yang bisa diakses anak muda.

2. Kembalikan Budaya Malu ke Porosnya. Malu jika kita mengaku Melayu tetapi tidak tahu pantun. Malu jika pejabat mengaku melayani rakyat tetapi lebih fasih berbahasa proposal proyek daripada bahasa rakyatnya. Malu jika kita membiarkan laut dan timah kita dikeruk tanpa sisa, sementara warisan budayanya kita biarkan tenggelam.

3. Jadikan Akal Sehat Sebagai Adat Baru. Adat yang paling tinggi adalah akal sehat. Mari kita jadikan tradisi baru sebagai adat: tradisi cek fakta sebelum sebar fitnah, tradisi membaca tuntas sebelum menghakimi, tradisi menghargai proses panjang para perajin dan petani budaya.

Indonesia di usia 81 tahun harus berhenti menjadi remaja yang mencari identitas dengan meminjam baju orang lain. Ia harus menjadi datuk yang bijak, yang tahu cara menjaga rumah panggungnya tetap kokoh: tiangnya adalah akal sehat, atapnya adalah adat, dan penghuninya adalah kemanusiaan.

Merdeka yang sejati bukan ketika kita paling keras berteriak merdeka, melainkan ketika kita tidak lagi malu menjadi diri kita sendiri. Dan ketika Adat Melayu tidak lagi hanya menjadi hiasan di etalase, melainkan menjadi napas di ruang tamu kita sendiri.

BACA JUGA:Dilema Penertiban Timah Bagi Ekonomi Rakyat dan Kedaulatan Negara

BACA JUGA:Kelekak Terakhir sebagai Arsip Kegelisahan Masyarakat Bangka Belitung

Kategori :