Pawai Kemerdekaan Pangkalpinang, dari Kemeriahan Menuju Warisan

Pawai Kemerdekaan Pangkalpinang, dari Kemeriahan Menuju Warisan

Sukma Wijaya--Foto IST

Oleh: Sukma Wijaya

Perawat Budaya & Praktisi Kehumasan (Unmuh Babel) 

-----------------------------------------------------

Agustus di Pangkalpinang selalu punya cara sendiri untuk merayakan Indonesia. Di Kota Pangkal Kemenangan ini, jalan raya berubah menjadi panggung rakyat.

Pada 26, 27, dan 29 Agustus 2026, Pangkalpinang menjadi ruang bersama bagi warga Kepulauan Bangka Belitung untuk merayakan HUT ke-81 RI lewat Pawai Baris-Berbaris, Karnaval Budaya, dan Kendaraan Hias.

Saya beruntung melihatnya dari dalam, sebagai salah seorang juri. Dari posisi itu terlihat dua wajah pawai: wajah yang membanggakan karena meriah dan penuh energi kebangsaan, dan wajah yang mengajak kita berpikir — setelah tepuk tangan selesai, warisan apa yang kita tinggalkan?

Belajar Indonesia dari Barisan

Pada 26 Agustus, 108 tim dari tingkat SD hingga masyarakat umum dan 11 grup drum band tampil dalam Pawai Baris-Berbaris. PBB bukan sekadar soal kaki serempak.

Ia adalah pelajaran kebangsaan paling dasar: tidak ada kekompakan tanpa disiplin. Satu orang terlalu cepat, barisan kacau. Satu orang terlalu lambat, irama hilang.

Begitulah Indonesia. Dan begitulah Pangkalpinang sebagai Kota Pangkal Kemenangan: kemenangan tidak datang dari langkah sendiri-sendiri, melainkan dari irama yang dijaga bersama. PBB harus naik kelas, dari sekadar lomba kerapian menjadi pendidikan karakter.

Panggung Kebudayaan yang Dirindukan

Sehari kemudian, karnaval budaya memenuhi kota. Ratusan ribu warga memadati jalur pawai, bukan hanya dari Pangkalpinang, tetapi juga dari berbagai kabupaten di Bangka hingga Belitung. Sepanjang rute, terlihat jelas betapa masyarakat kita haus akan ruang kebersamaan.

Kebudayaan bukan benda tua di museum. Kebudayaan adalah pengalaman bersama yang membuat kita merasa memiliki identitas.

Namun kreativitas jangan berhenti pada kostum indah. Bangka Belitung punya kekayaan yang lebih dalam: filosofi serumpun sebalai, tradisi nganggung, tudung saji, kain cual, tanjak, sejarah timah, kehidupan pesisir, hingga flora-fauna endemik. Pawai harus menjadi ruang untuk menceritakan siapa kita. Bukan sekadar show, tapi story.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: