BABELPOS.ID, SUNGAILIAT - Pemerintah Kabupaten Bangka melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penyelarasan Visi Lintas Sektor Keberlanjutan Perkebunan Lada Putih di Pulau Bangka”.
Kegiatan berlangsung di hotel Pesona Bay Sungailiat, pada Kamis (4/6/2026).
Acara dibuka secara langsung oleh Plt Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka, Drs. Asep Setiawan.
Turut hadir Kepala Bappeda Kabupaten Bangka, Ir. Pan Budi Marwoto, M.Si, serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) teknis, perwakilan kelompok tani, hingga pakar lintas disiplin ilmu dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang mencakup bidang teknik pertanian, sistem informasi geografis, iklim, dan bioekonomi.
Kepala Bappeda Bangka, Pan Budi Marwoto menjelaskan bahwa pelaksanaan FGD ini merupakan tindak lanjut dari survei yang dilakukan bersama Bupati Bangka, H. Fery Insani, SE, MM, untuk memvalidasi berbagai kendala yang dihadapi petani di lapangan.
Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber andal, antara lain Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni FTP UGM, Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P., serta Prof. Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng. sebagai pemberi pengantar.
Hadir pula narasumber lainnya yakni Muhammad Chrisna Satriagasa, S.Si., M.Sc., M.Ec.Dev., Ph.D., dan mitra akademik internasional Prof. Dr. Rosnah Shamsudin dari Universiti Putra Malaysia yang memberikan perspektif global terkait teknik pengolahan dan pangan.
Diskusi juga difasilitasi oleh Darol Arkum, M.Si., Dr. Widya Handini, B.Sc., M.Sc. dari Institut Pahlawan 12, serta Robika, S.Si., M.Si., dan Ir. Rudy Kurniawan, ST, MT, dosen Universitas Bangka Belitung.
BACA JUGA:Penumpang Angkutan Udara Berangkat di Babel Turun 28,79 Persen
Pan Budi menambahkan, kegiatan ini merupakan bagian dari program strategis berbasis riset aplikatif yang dipimpin oleh Dr. Ngadisih, STP., M.Sc. dari Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM.
Program bertajuk “Integrasi Adaptasi Perubahan Iklim, Inovasi Agroengineering, dan Perencanaan Pembangunan Daerah untuk Keberlanjutan Perkebunan Lada Putih di Pulau Bangka” ini dirancang untuk menjawab krisis produktivitas lada yang terjadi selama ini.
“Kondisi lahan yang menurun akibat erosi dan perubahan fungsi lahan, ditambah dampak perubahan iklim yang meningkatkan serangan hama, membuat posisi lada Bangka di pasar global melemah.
Indonesia yang sebelumnya menjadi penentu harga, kini hanya menjadi pengikut,” ungkapnya.