BUMDes dan Koperasi Jalan Baru Mengatasi Ketimpangan Desa

Minggu 15-03-2026,11:20 WIB
Reporter : Rulyanti Susi Wardhani
Editor : Jal

Oleh: Rulyanti Susi Wardhani

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung

---------------------------------------------------

Sudah sejak lama, napas ekonomi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seolah hanya bergantung pada timah. Namun, ketergantungan ini adalah pedang bermata dua yang memunculkan ketimpangan; desa selalu menjadi pihak yang paling terpukul saat harga timah jatuh. Akibatnya, orang-orang berbondong-bondong pindah ke kota karena desa dianggap tidak lagi menjanjikan. Membangun desa sebenarnya bukan soal mempercantik bangunan fisik saja, melainkan tentang membangun "mesin ekonomi" yang tangguh. Sinergi antara BUMDes dan Koperasi hadir sebagai jalan baru yang menjanjikan untuk membawa desa menuju kemandirian ekonomi yang sejati.

Dua Pilar, Satu Tujuan BUMDes dan Koperasi sering kali dianggap sebagai dua lembaga yang bersaing, padahal keduanya adalah mitra alami. BUMDes, sebagai lembaga milik desa, memiliki keunggulan dalam akses terhadap aset desa dan dukungan kebijakan pemerintah. Namun, BUMDes terkadang terjebak pada masalah birokrasi dan keterbatasan partisipasi aktif masyarakat secara langsung sebagai pemilik. Di sisi lain, Koperasi memiliki akar kuat dalam prinsip demokrasi ekonomi. Koperasi adalah wadah bagi masyarakat untuk menghimpun kekuatan kolektif, terutama dalam hal permodalan dan pemasaran. Prinsip "dari, oleh, dan untuk anggota" membuat koperasi sangat efektif dalam membangun loyalitas ekonomi warga.

Sinergi Operasional, Sinergi ini bisa diibaratkan sebagai mesin kembar. BUMDes bertindak sebagai pengelola unit usaha strategis yang membutuhkan modal besar misalnya pembangunan pabrik pengolahan hasil perkebunan atau pengelolaan destinasi wisata. Sementara itu, Koperasi berperan mengorganisir para petani atau perajin lokal sebagai pemasok (supply chain).

BACA JUGA:Mengendalikan Inflasi dari Meja Makan

BACA JUGA:Mewaspadai Bahaya AI di Era Keuangan Digital

Di Provinsi Kepulaua Bangka Belitung, model ini bisa menjadi kunci diversifikasi ekonomi. Saat sektor timah mulai bertransisi, desa harus mampu mengolah potensi alternatif seperti lada, karet, perikanan, hingga pariwisata secara profesional. Jika BUMDes mengelola gudang dan alat teknologi tepat guna, dan Koperasi memastikan para petani mendapatkan harga yang adil serta akses pembiayaan, maka rantai nilai ekonomi akan berputar di desa, bukan lari ke kota atau ke tangan tengkulak.

Keberhasilan BUMDes Tirta Mandiri di Desa Ponggok adalah bukti nyata bahwa pengelolaan profesional bisa mengubah nasib desa. Namun, untuk daerah dengan karakteristik seperti Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, keterlibatan aktif masyarakat melalui Koperasi akan menjamin bahwa pertumbuhan ekonomi desa tidak hanya dinikmati segelintir orang, tetapi menjadi milik bersama.

Jika desa kuat secara ekonomi, maka Indonesia pun akan tangguh. Sinergi BUMDes dan Koperasi bukan sekadar program tambahan, melainkan keharusan sejarah untuk memutus rantai ketimpangan dan membangun masa depan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang lebih berkelanjutan, melampaui era kejayaan timah.

BACA JUGA:MENYOAL PILKADA LANGSUNG DAN ATAU TAK LANGSUNG

BACA JUGA:MENJAGA NAPAS KEUANGAN DESA DI TENGAH PENGETATAN FISKAL

Kategori :