Lebaran di Negeri Timah: Antara Rezeki dan Ketimpangan
Ghilbar Pasesa--Foto IST
Oleh: Ghilbar Pasesa
Mahasiswa Jurusan Sosiologi Universitas Bangka Belitung
----------------------------------------------------------
Menjelang Idul Fitri, suasana di Bangka Belitung semakin terasa hidup. Pasar-pasar tradisional di Pangkalpinang dan sekitarnya dipadati masyarakat yang berburu kebutuhan Lebaran. Pedagang musiman mulai bermunculan, harga bahan pokok perlahan naik, dan aktivitas ekonomi bergerak lebih dinamis dari hari-hari biasa. Bagi sebagian orang, inilah masa panen rezeki. Namun, di balik geliat ekonomi tersebut, terdapat realitas lain yang tidak bisa diabaikan: tidak semua masyarakat merasakan kebahagiaan yang sama.
Lebaran sering kali menjadi momen yang memperlihatkan perbedaan kondisi sosial secara lebih jelas. Sebagian masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hari raya dengan cukup bahkan berlebih. Sementara itu, sebagian lainnya harus berjuang keras hanya untuk membeli bahan pokok, apalagi memenuhi tuntutan sosial seperti pakaian baru atau hidangan khas Lebaran. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan aktivitas ekonomi menjelang Idul Fitri tidak selalu berjalan seiring dengan pemerataan kesejahteraan. Dalam perspektif sosiologi, fenomena ini mencerminkan adanya ketimpangan sosial yang masih menjadi bagian dari realitas masyarakat.
Di Bangka Belitung, situasi ini tidak terlepas dari ketergantungan ekonomi terhadap sektor pertambangan timah. Aktivitas tambang, terutama tambang inkonvensional, memang menjadi sumber penghidupan bagi banyak masyarakat. Tidak sedikit yang beralih dari sektor lain karena dianggap mampu memberikan penghasilan yang lebih cepat. Namun, ketergantungan ini juga menyimpan kerentanan. Pendapatan dari tambang bersifat tidak pasti dan sangat bergantung pada kondisi lapangan. Di saat yang sama, dampak lingkungan yang ditimbulkan juga semakin nyata mulai dari kolong bekas tambang yang tidak direklamasi, pencemaran air, hingga berkurangnya lahan produktif. Situasi ini menempatkan masyarakat dalam dilema yang tidak sederhana: antara mempertahankan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidup, atau menjaga lingkungan demi keberlanjutan jangka panjang. Sayangnya, tanpa adanya pilihan ekonomi alternatif yang memadai, banyak masyarakat berada dalam posisi yang sulit.
BACA JUGA:Resiliensi Finansial: Mengubah Kepanikan Global Menjadi Kedisiplinan Cerdas Pengelolaan Keuangan
BACA JUGA:TUNJANGAN HARI RAYA IDUL FITRI, Oase Finansial atau Jebakan Konsumerisme Menjelang Lebaran?
Dalam konteks ini, Idul Fitri seharusnya tidak hanya dimaknai sebagai perayaan, tetapi juga sebagai ruang refleksi sosial. Tradisi berbagi seperti zakat fitrah, sedekah, dan bantuan sosial memang menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan sosial. Namun, praktik ini sering kali hanya bersifat sementara. Jika solidaritas hanya menguat saat Lebaran, maka ketimpangan akan terus berulang dari tahun ke tahun. Padahal, nilai-nilai yang diajarkan selama Ramadan menekankan pentingnya kepedulian dan keadilan sosial. Solidaritas seharusnya tidak berhenti pada bantuan sesaat, tetapi juga diwujudkan dalam upaya bersama untuk mengatasi persoalan yang lebih mendasar.
Peran pemerintah daerah menjadi sangat krusial dalam mendorong perubahan tersebut. Kebijakan yang mendukung pemerataan ekonomi, pengembangan sektor usaha alternatif, serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan perlu diperkuat. Di sisi lain, masyarakat juga perlu meningkatkan kesadaran untuk tidak hanya bergantung pada satu sektor ekonomi. Sebagai daerah yang memiliki nilai gotong royong dan kebersamaan yang kuat, Bangka Belitung sebenarnya memiliki modal sosial yang besar. Tradisi saling membantu yang selama ini hidup di tengah masyarakat dapat menjadi kekuatan untuk mengurangi kesenjangan, jika dikelola secara lebih berkelanjutan.
Dalam semangat Idul Fitri yang mengajarkan kepedulian dan keadilan sosial, diperlukan langkah konkret yang tidak berhenti pada bantuan sesaat. Penguatan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis potensi lokal dapat menjadi alternatif sumber penghasilan yang lebih stabil bagi masyarakat. Selain itu, pengelolaan kolong bekas tambang secara produktif—seperti untuk perikanan atau pariwisata berbasis lingkungan—perlu didorong secara berkelanjutan. Di sisi lain, program pelatihan kerja dan pemberdayaan masyarakat menjadi penting untuk membuka peluang ekonomi baru, sehingga ketergantungan terhadap sektor tambang dapat secara bertahap dikurangi.
Pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang perayaan dan kebahagiaan sesaat. Lebih dari itu, Lebaran adalah momentum untuk melihat kembali kondisi sosial yang ada di sekitar kita. Apakah rezeki yang hadir benar-benar dirasakan bersama, atau justru hanya dinikmati oleh sebagian pihak? Pertanyaan ini penting untuk direnungkan. Jika Idul Fitri dimaknai secara lebih dalam, maka momen ini dapat menjadi titik awal untuk memperkuat solidaritas sosial dan membangun masyarakat yang lebih adil dan berkelanjutan. Lebaran di negeri timah seharusnya tidak hanya menjadi cerita tentang rezeki, tetapi juga tentang upaya bersama untuk mengurangi ketimpangan yang masih ada.
BACA JUGA:Ketika Ramadan Menghidupkan Ekonomi Rakyat
BACA JUGA:Mengendalikan Inflasi dari Meja Makan
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
