Menurut dia, tantangan utama pelaku tambak saat ini selain risiko virus ialah harga jual yang rendah di pasar ekspor, khususnya ke Amerika Serikat.
Kondisi tersebut membuat sebagian tambak memilih tidak berproduksi bila harga belum mampu menutupi break even point.
“Usaha tambak harus tetap mengutamakan profit.
Jika harga tidak menutup biaya produksi, tentu sulit untuk beroperasi,” ujarnya.
BACA JUGA:Selamat Jalan Sang Perintis, Jasamu akan Selalu Kami Kenang...
FGD ini menjadi momentum penting bagi pemerintah, PLN, asosiasi, dan pelaku usaha untuk memperkuat kolaborasi dalam mendorong perkembangan industri tambak udang yang produktif, efisien, dan berkelanjutan di Bangka Belitung.