Hidup Kita (Juga) Layak untuk Ditulis
Budi Rahmad-Dok Pribadi-
Sabtu, 8 Agustus 2026 lalu, saya menjadi salah satu pemateri pada kegiatan Journalism Next Generation 2026. Materinya Menulis dari Pengalaman Pribadi. Kegiatan ini digagas oleh Yayasan Rumah Belajar Bangka Belitung dan didukung oleh PT Timah.
Hadir di tengah-tengah pelajar SMA, saya mendapat gambaran bahwa banyak orang terlalu sibuk mencari ide cerita, tetapi lupa bahwa pada dirinya sendiri sebenarnya begitu banyak cerita. Hanya saja sering abai dan merasa tidak penting.
Untuk mendapatkan ide cerita sampai melakukan membaca kisah orang lain, menunggu peristiwa besar, bahkan berharap suatu hari mengalami sesuatu yang luar biasa agar memiliki bahan untuk ditulis. Barangkali persoalannya bukan karena tidak memiliki cerita. Hanya tidak terbiasa menganggap pengalaman sendiri sebagai sesuatu yang berharga.
Banyak orang menganggap remeh pengalaman hidup sehari-hari, menganggapnya terlalu biasa atau tidak penting untuk dibagikan. Ketika seseorang menuliskan pengalamannya secara jujur, ia tidak sedang sekadar bernostalgia atau curhat, melainkan sedang merajut jembatan empati dengan pembacanya.
Ada kecenderungan dalam budaya membaca kita untuk menganggap cerita harus selalu besar agar menarik. Kisah tentang perjuangan hidup, perjalanan ke tempat jauh, tokoh terkenal, bencana, konflik besar, atau keberhasilan luar biasa terasa lebih layak diceritakan. Akibatnya, pengalaman sehari-hari sering dianggap remeh.
Seorang ibu yang setiap pagi menyiapkan sarapan untuk keluarganya mungkin merasa tidak memiliki cerita. Seorang guru yang bertahun-tahun mengajar di sekolah yang sama mungkin menganggap hidupnya biasa saja. Seorang anak yang setiap hari berjalan kaki menuju sekolah mungkin tidak pernah berpikir bahwa perjalanan itu memiliki nilai cerita. Padahal, justru di dalam rutinitas itulah kehidupan manusia sesungguhnya berlangsung.
Menulis dari pengalaman pribadi bukan berarti memindahkan isi kepala ke atas kertas. Pengalaman adalah bahan mentah dan dipilih, diolah, ditafsirkan, dan diberi konteks. Seseorang yang pernah gagal dalam sebuah perlombaan, misalnya, tidak cukup hanya menulis bahwa ia kalah dan kemudian merasa sedih. Akan lebih menarik adalah apa yang terjadi setelah kekalahan itu.
Tidak perlu menunggu hidup menjadi dramatis untuk mulai menulis. Justru kehidupan yang tampak biasa sering menyimpan emosi yang paling dekat dengan pembaca. Cerita yang ditulis tidak selalu membutuhkan kejadian luar biasa. Tulisan membutuhkan kemampuan untuk menemukan sesuatu yang luar biasa dari kejadian yang biasa.
Ketika seseorang menuliskan pengalaman kehilangan, misalnya, ia mungkin baru menyadari betapa pentingnya seseorang setelah orang itu tidak lagi berada di sisinya. Ketika menulis tentang masa sekolah, ia mungkin baru menyadari bahwa kenangan yang dulu dianggap biasa ternyata merupakan bagian paling berharga dari hidupnya.
Ketika menulis tentang orang tua, ia mungkin baru memahami bahwa banyak hal yang dahulu dianggap sebagai bentuk kekerasan atau larangan sebenarnya lahir dari kekhawatiran dan kasih sayang. Dengan demikian, menulis bukan hanya pekerjaan menghasilkan teks. Menulis adalah cara manusia memeriksa kembali kehidupannya sendiri.
Ada satu jebakan lain dalam menulis pengalaman pribadi: menjadikan tulisan sebagai panggung untuk memamerkan diri. Penulis terlalu sibuk menceritakan betapa hebat dirinya, betapa sulit perjuangannya, betapa banyak prestasinya, atau betapa istimewa pengalaman yang pernah dijalani.
Tulisan semacam itu mungkin informatif, tetapi belum tentu menyentuh. Pengalaman pribadi akan lebih kuat ketika penulis berani menunjukkan kerentanan. Seperti, mengakui pernah gagal, pernah salah, pernah takut atau pernah menyesal. Di sinilah pembaca menemukan manusia di balik tulisan.
Selain itu, pembaca tidak membutuhkan tokoh yang sempurna. Pembaca membutuhkan manusia yang jujur. Kerentanan bukan kelemahan dalam tulisan personal. Ia justru dapat menjadi sumber kekuatan. Dalam tulisan pengalaman pribadi, tokoh yang kuat adalah tokoh yang manusiawi—punya kelebihan, kekurangan, keraguan, kesalahan, bahkan kegagalan.
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika orang berbicara tentang keberanian menulis pengalaman pribadi: etika.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
