Suara Penulis dan Tanggung Jawab Editor

Suara Penulis dan Tanggung Jawab Editor

Budi Rahmad-Dok Pribadi-

Ada satu kebiasaan yang sering sulitt dilakukan seorang penulis, yakni menyerahkan naskah yang sudah dianggap selesai kepada orang lain untuk dibaca dan disunting. Setelah berjam-jam menulis, mencari data, menyusun kalimat, menghapus bagian yang dianggap tidak perlu, lalu membaca ulang berkali-kali, muncullah perasaan bahwa naskah itu sudah baik dan siap terbit.

Penulis selalu dijangkiti penyakit bahwa tulisannya sudah baik. Sepertinyaa tidak ada yang salah lagi. Perasaan semacam itu sangat manusiawi. Penulis tentu mengenal tulisannya sendiri. Ia tahu apa yang ingin disampaikan, mengapa kalimat tertentu ditulis, dan ke mana arah tulisannya.

Tetapi justru karena terlalu mengenal tulisannya, seorang penulis sering tidak mampu melihat kesalahan yang ada di dalamnya. Di sinilah pentingnya orang lain. Naskah yang baik tidak selalu lahir dari proses menulis yang panjang. Ia juga lahir dari proses membaca ulang, mengkritisi, dan bersedia menerima pandangan oranng lain.

Menulis adalah proses kreatif yang sangat personal. Penulis kerap kali terkurung dalam labirin pikirannya sendiri, jatuh cinta pada kalimatnya sendiri, atau kehilangan jarak pandang terhadap tulisan yang baru saja ia buat.

Di sinilah kehadiran seorang editor menjadi mutlak. editor bukan sekadar pemberi stempel atau korektor tata bahasa yang mencari-cari salah ketik (typo). Lebih dari itu, editor adalah kurator makna dan mitra berpikir bagi penulis.

Seorang penulis membutuhkan mata kedua. Bukan karena penulis tidak mampu menyunting sendiri. Bukan pula karena penulis tidak menguasai tata bahasa. Masalahnya lebih sederhana: kita terlalu dekat dengan tulisan sendiri.

Ketika membaca tulisan yang kita buat, otak sering kali tidak benar-benar membaca apa yang tertulis. Otak membaca apa yang kita maksuidkan. Itulah sebabnya sebuah kata yang hilang bisa tidak kita sadari. Kalimat yang terlalu panjang terasa biasa.

Pengulangan kata tidak terlihat. Bahkan kesalahan nama, angka, atau fakta dapat lolos meskipun naskah sudah dibaca berkali-kali.

Kita melihat apa yang ingin kita lihat. Orang lain membaca apa yang benar-benar tertulis. Perbedaan itulah yang membuat penyuntingan oleh orang lain menjadi penting. 

Dalam kerja jurnalistik, kebutuhan terhadap penyuntingan bahkan lebih besar. Sebuah berita bukan hanya soal kemampuan menyusun kalimat. Ada fakta yang harus diperiksa, informasi yang harus dikonfirmasi, konteks yang harus dijaga, serta kepentingan publik yang harus dipertimbangkan.

Wartawan yang baru pulang dari lapangan mungkin merasa sudah mendapatkan semua yang dibutuhkan. Ia tahu siapa yang diwawancarai. Ia tahu suasana ketika peristiwa terjadi. Ia tahu informasi mana yang dianggap penting.

Namun, editor tidak berada di lapangan. Justru karena itulah editor bisa melihat naskah dengan jarak. 

Editor bisa bertanya tentang sesuatu yang tidak terpikirkan oleh wartawan. Ia akan bertanya seperti, Dari mana data ini? Apakah sumbernya cukup kuat? Sudah ada konfirmasi dari pihak lain? Apakah judul ini sesuai dengan isi?.

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin membuat naskah kembali berubah. Tetapi perubahan bukan tanda bahwa naskah pertama buruk. Perubahan adalah bagian dari proses membuat tulisan menjadi lebih baik. Dalam menulis, ada satu hal yang perlu dibedakan: penulis dan tulisannya bukanlah hal yang sama.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait