Jumlah kapal nelayan terus bertambah hingga mencapai 420 unit, sementara kuota solar saat ini hanya dibatasi 300.000 KL per bulan.
Padahal, satu kapal rata-rata membutuhkan 1 ton solar tergantung jenisnya," ungkap Ferdiansyah.
BACA JUGA:Panen 30 Kg Selada Hidroponik, Lapas Narkotika Pangkalpinang Libatkan Warga Binaan
Kedatangan para nelayan ke DPRD Babel bertujuan untuk meminta penambahan kuota BBM agar pasokan solar dapat mencukupi dan nelayan dapat melaut dengan tenang.
Selain solar, nelayan juga membutuhkan pertalite sebanyak 50 liter per hari untuk sekali berangkat, dengan durasi trip yang bervariasi antara 7, 12, hingga 20 hari.
Ferdiansyah berharap DPRD Babel dapat menjembatani aspirasi mereka kepada BPH Migas sebagai pihak yang berwenang dalam pengaturan BBM, demi memperjuangkan penambahan kuota khusus nelayan.
"Kemarin sempat 12 hari tidak melaut, tentu itu sangat menyulitkan kami yang kehidupannya bergantung pada sektor ini.
Kami kesulitan karena jatah solar dibagi per bulan.
Jika di tengah bulan kuota sudah habis, praktis kami tidak bisa melaut lagi," keluhnya.
Di sisi lain, Ferdiansyah menilai sektor kelautan dan perikanan saat ini telah menjadi salah satu sektor unggulan yang menjanjikan seiring membaiknya harga komoditas perikanan.
Oleh karena itu, ia berharap potensi besar ini mendapat perhatian yang lebih serius dari pemerintah pusat maupun daerah.
BACA JUGA:Menumbuhkan Harapan Melalui Pendidikan, PT TIMAH Membuka Peluang bagi Generasi Muda
BACA JUGA:6 Bansos November 2026 Siap Cair, Ini Kelompok Penerima Berdasarkan Desil
BACA JUGA:Demi Kenyamanan Pengguna Jalan, Kapolres Bangka Turun Atur Lalu-lintas