Anak muda yang memakai tanjak tanpa tahu maknanya bukan untuk ditertawakan. Itu alarm. Tugas kita bukan sekadar berkata "Kamu harus tahu budaya!", tapi bertanya: "Sudahkah kita menyediakan pengetahuan agar mereka bisa tahu?"
Maka Tanjak Depati harus bergerak dari atribut menjadi pengetahuan. Ada enam jalan:
Pertama, buat bangga, bukan memaksa. Gerakan Sehari Bertanjak Bangka dengan kalender yang jelas, agar tanjak menjadi normal di ruang publik, bukan sekadar seremoni.
Kedua, masuk ke ruang anak muda. Budaya harus berani masuk TikTok, Instagram, YouTube. Lomba fotografi, video pendek, tanjak styling, cerita satu menit tentang filosofi. Tidak semua tradisi harus serius untuk bermartabat.
Ketiga, Tanjak untuk Semua. Jangan hanya untuk pejabat atau pengantin. Guru, mahasiswa, nelayan, UMKM, seniman, pengemudi ojek pun boleh bertanjak. Yang penting kesadaran budayanya, bukan statusnya.
Keempat, bangun rantai ekonominya. Libatkan penenun, perajin, desainer, UMKM. Setiap tanjak disertai story card atau QR code berisi sejarah, filosofi, dan cara pakai. Pembeli bukan hanya membeli benda, ia membeli cerita.
Kelima, Kelas Tanjak Depati yang menyenangkan di sekolah dan komunitas. Bukan menghafal sampai mengantuk, tapi mencoba memakai, mewawancarai perajin, membuat konten. Satu anak yang bisa menceritakan makna tanjak ke sepuluh temannya lebih berharga dari seratus anak yang memakai karena disuruh.
Keenam, standar narasi budaya. Bentuk, istilah, sejarah, dan filosofinya harus dikaji bersama budayawan, sejarawan, dan pemangku adat. Budaya boleh berkembang, tapi harus punya pijakan agar tidak menjadi legenda yang membingungkan.
Pada akhirnya, budaya bukan apa yang kita taruh di kepala, tapi apa yang kita tanam di dalam kepala. Tanjak boleh menjulang, jangan sampai kesombongan ikut menjulang. Tanjak boleh indah, jangan sampai adab menjadi lusuh.
Ketika anak muda memakai Tanjak Depati, saya tidak ingin buru-buru bertanya "Bagus tidak?" Saya ingin bertanya: "Nak, kau tahu tidak apa yang sedang kau bawa di kepalamu?"
Jika ia tahu, saya akan tersenyum. Karena tanjak bukan lagi sekadar kain, melainkan pengingat agar kita tidak hanya tampak Melayu, tetapi juga berperilaku sebagai manusia yang berbudaya.
Pangkalpinang, 24 Agustus 2026
BACA JUGA:Keterampilan Membaca dan Menulis: Fondasi dalam Upaya Membangun Karakter Siswa