Biofuel: Jawaban Bagi Rapuhnya Energi Fosil Nasional

Kamis 23-04-2026,09:12 WIB
Reporter : Kuntoro Boga Andri
Editor : Jal

Padahal, kebutuhan untuk implementasi campuran bensin berbasis etanol, misalnya pada skema E10 (10 persen etanol), diperkirakan mencapai lebih dari 3 juta kiloliter per tahun. Kesenjangan ini sering kali dipandang sebagai kelemahan, namun, dalam perspektif pembangunan, justru di situlah letak peluangnya.

Indonesia memiliki sumber bahan baku yang sangat beragam. Selain tebu dan molases sebagai produk samping industri gula, komoditas, seperti singkong, jagung dan sorgum, memiliki potensi besar. Produksi singkong nasional yang mencapai sekitar 14–16 juta ton per tahun dapat menjadi basis pengembangan bioetanol, terutama jika didukung oleh peningkatan produktivitas dan hilirisasi.

Belajar dari Brasil yang telah lama mengembangkan bioetanol berbasis tebu, kunci keberhasilan terletak pada integrasi antara sektor pertanian, industri, dan energi. Indonesia memiliki prasyarat tersebut, meskipun masih membutuhkan konsolidasi kebijakan dan investasi.

Langkah awal sebenarnya telah terlihat. Peluncuran produk bensin campuran bioetanol, seperti Pertamax Green 95 menjadi sinyal bahwa pasar mulai dibentuk. Hanya saja, pengembangan bioetanol membutuhkan lebih dari sekadar produk, namun ekosistem, seperti kepastian harga, insentif investasi, hingga kepastian pasokan bahan baku.

Dalam konteks ini, bioetanol menjadi komponen penting dalam diversifikasi energi berbasis hayati. Ia membuka peluang bagi wilayah non-sawit untuk terlibat dalam transisi energi, sekaligus mendorong hilirisasi sektor pertanian.

Kedaulatan energi

Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan bukan lagi apakah biofuel dapat menggantikan BBM, tetapi sejauh mana biofuel dapat mendorong Indonesia menuju kedaulatan energi.

Selama ini, diskursus energi sering terjebak pada perbandingan harga semata. Padahal, harga BBM fosil sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan Indonesia. Ketergantungan pada impor membuat setiap kenaikan harga minyak dunia langsung berdampak pada APBN, baik melalui subsidi maupun kompensasi.

Sebaliknya, biofuel menawarkan stabilitas yang lebih tinggi. Karena berbasis sumber daya domestik, fluktuasi harga global tidak sepenuhnya diterjemahkan ke dalam harga dalam negeri. Dalam jangka panjang, ini memberikan ruang fiskal yang lebih sehat dan terukur.

Selain itu, biofuel berkontribusi pada agenda lingkungan. Program biodiesel Indonesia diperkirakan mampu menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 30–35 juta ton CO₂ ekuivalen per tahun. Ini merupakan kontribusi signifikan dalam upaya mencapai target net zero emission pada 2060.

Meskipun demikian, optimisme terhadap biofuel tetap harus disertai dengan kehati-hatian. Isu keberlanjutan, seperti potensi deforestasi dan perubahan penggunaan lahan, tidak boleh diabaikan. Di sinilah pentingnya penguatan standar, seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) serta peningkatan produktivitas lahan, tanpa ekspansi berlebihan.

Lebih jauh, pengembangan biofuel harus dipandang sebagai bagian dari strategi energi yang lebih luas. Biofuel tidak berdiri sendiri, melainkan melengkapi sumber energi terbarukan lain, seperti panas bumi, tenaga surya, dan angin. Kombinasi inilah yang akan membentuk sistem energi yang tangguh dan berkelanjutan.

Dalam kerangka tersebut, Indonesia sesungguhnya memiliki semua prasyarat untuk mencapai kemandirian energi berupa sumber daya alam yang melimpah, pasar domestik yang besar, serta pengalaman kebijakan yang sudah teruji. Tantangan yang tersisa lebih bersifat implementatif, yaitu bagaimana memastikan konsistensi kebijakan, menarik investasi, dan menjaga keseimbangan antara ekonomi dan lingkungan.

Harga BBM yang mahal seharusnya tidak hanya dilihat sebagai beban, tetapi sebagai momentum. Momentum untuk mempercepat transformasi energi, memperkuat basis produksi domestik, dan mengurangi ketergantungan pada impor. Biodiesel telah membuktikan bahwa transformasi itu mungkin. Bioetanol membuka ruang untuk memperluasnya. Keduanya, jika dikelola secara konsisten dan berkelanjutan, bukan hanya solusi jangka pendek atas mahalnya BBM, tetapi juga fondasi jangka panjang bagi kedaulatan energi Indonesia.

Pada akhirnya, kemandirian energi bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Dan biofuel, dengan segala potensinya, adalah salah satu jalan paling realistis untuk mencapainya.

*) Kuntoro Boga Andri, Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian

Kategori :