Etika Perantau Minang di Bangka Belitung: Ujian Adaptasi dan Kesadaran Diri

Etika Perantau Minang di Bangka Belitung: Ujian Adaptasi dan Kesadaran Diri

Asmaridho Afendi --Foto: ist

Oleh : Asmaridho Afendi

Penata Layanan Operational 

Tim Kerja Ortala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

___________________________________________

Merantau bagi orang Minangkabau bukan sekadar berpindah tempat, melainkan proses pembentukan etika sosial. Prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah kerap dijadikan pedoman. 

Namun di Bangka Belitung—masyarakat yang menjunjung ketenangan dan harmoni—nilai tersebut diuji: apakah benar-benar membumi, atau sekadar identitas simbolik.

Ujian etika itu semakin nyata ketika perantauan disertai peralihan peran, dari Guru Bahasa Arab di MTsN 2 Sawahlunto ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bangka Belitung. Dunia pendidikan yang relatif homogen berbeda dengan ruang birokrasi yang majemuk secara etnis, karakter, dan budaya kerja. 

Gaya komunikasi Minang yang lugas dan argumentatif, yang efektif di ruang akademik, tidak selalu sejalan dengan budaya Bangka Belitung yang lebih berhati-hati dan tenang.

Di sinilah etika perantau diuji. Etika bukan hanya soal kedisiplinan dan kepatuhan aturan, tetapi kemampuan membaca konteks, menahan ego kultural, dan membangun relasi yang inklusif. Ketika pengalaman, adat, dan latar belakang keilmuan dibawa tanpa kepekaan sosial, perantau berisiko menciptakan jarak, bukan kedekatan.

Namun, peralihan ini juga menyimpan peluang. Nilai-nilai keguruan—ketelatenan, empati, dan tanggung jawab moral—dapat menjadi modal etis di lingkungan birokrasi, asalkan diselaraskan dengan kearifan lokal Bangka Belitung. Etika Minang sejatinya tidak eksklusif, melainkan adaptif.

Pada akhirnya, etika perantau Minang di Bangka Belitung tidak diukur dari seberapa kuat identitas dipertahankan, melainkan dari kesediaan untuk belajar ulang, merendahkan ego, dan menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat. Merantau adalah ujian kesadaran diri—bukan sekadar perpindahan tempat dan jabatan.

BACA JUGA:Submit Serentak Zona Integritas, Penanda Reformasi Birokrasi Bergerak

BACA JUGA:Sering 'Kepo' di Medsos? Waspada, Kebiasaan Stalking Digital Bisa Picu Gangguan Mental dan Merusak Hubungan

Merantau bagi orang Minangkabau bukan sekadar berpindah tempat, melainkan proses pembentukan etika sosial. Prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah kerap dijadikan pedoman. Namun di Bangka Belitung—masyarakat yang menjunjung ketenangan dan harmoni—nilai tersebut diuji: apakah benar-benar membumi, atau sekadar identitas simbolik.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait