SERUMPUN SEBALAI: BUKAN SEKADAR SENAM, INI SOAL JATI DIRI
Senam Serumpun Sebalai--Foto IST
Sebab, Serumpun Sebalai tidak dibuat untuk berhenti di ruang latihan. Ia harus menemukan rumahnya di tengah masyarakat.
BACA JUGA:Membangun Generasi yang Gemar Membaca dan Berani Menulis
BACA JUGA:Pentingnya Dana Jaminan Reklamasi Pertambangan untuk Pemulihan Lingkungan di Indonesia
Dari Ruang Pelatihan Menuju Tujuh Kabupaten/Kota
Sebuah karya tidak cukup hanya selesai diciptakan. Ia harus diperkenalkan, dipelajari, dan dihidupkan bersama.
Harapan saya, Senam Serumpun Sebalai tumbuh di halaman sekolah, lingkungan perkantoran, komunitas olahraga, lapangan kampung, dan berbagai ruang kebersamaan lainnya. Ketika pelajar, guru, pegawai, dan masyarakat bergerak mengikuti gerak yang berakar dari tradisi, mereka bukan hanya menjaga kebugaran, tetapi juga berkenalan dengan kekayaan budaya daerahnya.
Ikhtiar ini direncanakan mencapai momentum besar pada peringatan Hari Jadi ke-26 Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebanyak 10.000 orang direncanakan bersenam bersama, bergerak dengan penuh semangat dan kegembiraan. Sosialisasi dan pelaksanaan senam massal ini juga direncanakan menjangkau tujuh kabupaten/kota se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Jika rencana tersebut terwujud, ini bukan sekadar peristiwa olahraga massal. Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa budaya Melayu dapat hadir dalam ruang kebersamaan yang luas, melibatkan masyarakat lintas usia dan latar belakang.
Bayangkan ribuan orang bergerak bersama. Ada pelajar, guru, pegawai, komunitas senam, dan masyarakat umum. Gerakannya mungkin belum semuanya kompak, tetapi semangatnya bertemu dalam satu irama: menjaga kesehatan sekaligus merawat identitas daerah.
Tentu, jumlah peserta yang besar akan menjadi catatan tersendiri. Namun, ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah perayaan usai.
Apakah senam ini tetap dilakukan di sekolah? Apakah komunitas terus menggerakkannya? Apakah masyarakat semakin mengenal gerak tradisi yang menjadi sumbernya?
Sebab, budaya tidak boleh hanya ramai ketika festival berlangsung, meriah saat perlombaan digelar, lalu sunyi kembali setelah panggung dibongkar.
Kita juga tidak ingin generasi muda hanya mengenal budaya daerah melalui spanduk, baliho, atau paragraf sambutan dalam acara resmi.
Budaya harus hadir sebagai pengalaman hidup: dikenal karena dipelajari, dicintai karena dirasakan, dan diwariskan karena dianggap berharga.
Senam kreasi budaya tentu tidak menggantikan tari tradisi. Keduanya memiliki ruang dan fungsi masing-masing. Serumpun Sebalai justru diharapkan menjadi pintu masuk yang menyenangkan agar masyarakat semakin mengenal, mencintai, dan menghargai kekayaan gerak daerahnya sendiri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
