SERUMPUN SEBALAI: BUKAN SEKADAR SENAM, INI SOAL JATI DIRI
Senam Serumpun Sebalai--Foto IST
Namun, keberhasilan karya terdahulu bukan alasan untuk sekadar mengulang formula yang sama. Setiap karya memiliki tantangan dan tanggung jawabnya sendiri. Tantangannya adalah menghadirkan sesuatu yang baru tanpa kehilangan akar.
Serumpun Sebalai menjadi karya kedua saya dalam perjalanan ini. Dua karya, dua pengalaman, tetapi satu kegelisahan yang sama: bagaimana budaya tidak berhenti sebagai tontonan, melainkan benar-benar hidup dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Bukan Sekadar Senam Kebugaran
Senam kreasi budaya dan Senam Kesegaran Jasmani (SKJ) sama-sama bermanfaat bagi kebugaran, tetapi memiliki titik berangkat berbeda. SKJ berorientasi pada kebugaran jasmani melalui rangkaian gerak terstruktur, sedangkan senam kreasi budaya menggali gerak dari kekayaan tari tradisi yang diolah menjadi senam tanpa menghilangkan karakter budayanya.
Koreografi Serumpun Sebalai berpijak pada kekayaan gerak tari tradisi Bangka Belitung, seperti Kecupus, Dincak Dambus, Campak, Sepen, Cakter, Zapin, dan Gajah Menunggang. Tantangannya adalah menjaga rasa Melayu sekaligus membuat gerakannya dinamis, aman, dan mudah diikuti berbagai kalangan. Jika kebugaran menggerakkan tubuh, senam kreasi budaya juga menggerakkan ingatan dan meneguhkan jati diri.
Bagi saya, kreativitas bukan berarti menghapus jejak lama agar terlihat baru. Justru tradisi perlu diberi ruang untuk tumbuh, menyesuaikan diri, dan menemukan bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan hari ini tanpa kehilangan identitasnya.
Merawat budaya bukan berarti membekukannya dalam masa lalu. Tradisi harus tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Sebuah Karya Tidak Lahir Sendirian
Senam Serumpun Sebalai bukan pekerjaan satu orang. Karya ini tumbuh melalui pertemuan keahlian, gagasan, dan kepekaan banyak pihak.
Dalam proses koreografi, saya berkolaborasi dengan Zuryantina, instruktur senam berpengalaman hingga berprestasi tingkat nasional. Kepekaannya terhadap anatomi gerak, ritme, dan kebutuhan kebugaran menjadi bagian penting agar gerakan yang berakar pada tari tradisi tetap nyaman dan aman dilakukan.
Di bidang musik, ada Zulfikri Hilmi, musisi dan arranger asal Bangka yang bermukim di Sungailiat. Ia mengolah aransemen agar karakter Melayu tetap terasa, sementara tempo dan dinamikanya mampu menopang gerakan senam yang energik.
Kemudian hadir Nunung Rohmawati, vokalis yang dikenal melalui lagu Muharram di Kenango dan pernah meraih juara nasional Festival Lagu Melayu di Medan. Suaranya memberi warna sekaligus membangun kedekatan emosional antara musik, gerak, dan pendengarnya.
Masing-masing membawa keahlian berbeda, tetapi bertemu dalam satu tujuan: menghadirkan senam yang berakar pada tradisi dan mampu mengikuti denyut kehidupan masyarakat.
Di sinilah indahnya kolaborasi. Karya yang baik tidak selalu lahir dari satu orang yang ingin tampil paling menonjol. Sering kali, karya justru menjadi lebih kuat ketika setiap orang bersedia menyumbangkan keahliannya demi sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Nama para pencipta penting sebagai bentuk penghargaan. Namun, keberhasilan sesungguhnya adalah ketika karya itu mampu tumbuh di luar ruang penciptaannya, diterima masyarakat, lalu menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
