Inversi Sumpah Pemuda: Ketika Pemuda Tak Lagi Bersumpah, Tapi Disumpahi

Inversi Sumpah Pemuda: Ketika Pemuda Tak Lagi Bersumpah, Tapi Disumpahi

Sukma Wijaya--Foto IST

Oleh : Sukma Wijaya

Perawat Budaya & Praktisi Kehumasan (Unmuh Babel) 

-------------------------------------

BABELPOS.ID - Sembilan puluh delapan tahun lalu Sumpah Pemuda adalah sebuah kata kerja aktif: pemuda yang bersumpah untuk menciptakan bangsa. Pada 2026, kata itu telah berubah menjadi kata kerja pasif: pemuda yang disumpahi oleh bangsanya sendiri. Di antara dua kutub itu terjadi inversi kontrak sosial — dari generasi yang mengikrarkan kesetiaan kepada Indonesia, menjadi generasi yang ditagih kesetiaannya sambil diwarisi tagihan zaman yang tidak pernah mereka pesan, dengan cap yang seragam: generasi stroberi, malas, dan kebanyakan healing. Maka pertanyaan yang relevan di peringatan ke-98 ini bukan lagi apakah pemuda masih bersumpah, melainkan apakah bangsa masih menepati sumpahnya kepada pemuda.

Setiap 28 Oktober, negara mengulang ritual yang sama: menyebut pemuda tulang punggung bangsa dan pemilik masa depan. Namun masa depan itu diperlakukan seperti barang inden. Dipesan atas nama kita, dikirim entah kapan, dan selama menunggu kita diminta bersabar, jangan berisik. "Harapan bangsa" adalah gelar paling hemat anggaran dalam sejarah republik. Tidak perlu digaji, tidak perlu diberi jaminan, cukup diupacarakan.

Ironinya paling telanjang ada pada sumpah pertama. Kita bersumpah bertumpah darah satu, bertanah air satu. Tapi tanah air itu kini lebih mirip tanah milik. Bagi segelintir orang ia adalah portofolio investasi, bagi sisanya ia adalah kontrakan seumur hidup. Gaji setahun tak cukup untuk DP, tapi kita tetap diminta mencintai tanah yang tak sanggup kita beli. Ini cinta platonik yang dipaksakan negara: mencintai tanpa boleh memiliki.

Bahasa yang Dibongkar, Hierarki yang Dibangun Ulang

Sumpah ketiga meminta kita menjunjung bahasa persatuan. Kata kuncinya adalah menjunjung, bukan memurnikan apalagi membekukan. Menjunjung artinya membawa di kepala dan menghidupkannya di jalan.

Pada 1928, Melayu dipilih bukan karena paling indah, melainkan karena paling setara. Ia tidak punya undak-undak krama seperti bahasa Jawa. Ia bahasa pasar, bahasa pelabuhan, bahasa orang yang ingin bicara tanpa harus membungkuk dulu. Ia sengaja dipilih untuk membongkar hierarki.

Kini sebagian penjaganya justru membangun hierarki baru di dalamnya. Ejaan dijadikan tata krama, titik-koma dijadikan takaran moral. Lahirlah bangsawan gramatika yang sigap mengoreksi typo sambil melewatkan isi. Kita dulu mendirikan bahasa untuk meruntuhkan feodalisme, sekarang kita mendirikan feodalisme di dalam bahasa itu sendiri.

Sementara itu, pemuda memakai bahasa sampai aus. Satu kalimat bisa berisi tiga bahasa, dan di sela-selanya ada umpatan: anjir, bjir, goblok. Kaum tua mendengarnya sebagai bukti kemerosotan. Telinga yang lebih sabar mendengar hal lain: umpatan adalah protes paling murah bagi yang tak punya mimbar. Yang tak bisa menggugat undang-undang akan menggugat nasib di kolom komentar. Serapah adalah demonstrasi tanpa surat izin keramaian, dan karena itu ia tak pernah berhasil dibubarkan. Mikhail Bakhtin pernah membela tawa kasar dan bahasa rendah sebagai cara rakyat menertawakan kuasa. Yang dianggap kasar sering kali justru menjadi nyawa bagi yang dianggap halus.

BACA JUGA:Setelah Status Kompeten Wartawan Didapat: Ujian Sesungguhnya Dimulai

BACA JUGA:Spanduk Diturunkan, Karhutla Tetap Menunggu Jawaban

Dua Cara Kehilangan Suara

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: