Sering 'Kepo' di Medsos? Waspada, Kebiasaan Stalking Digital Bisa Picu Gangguan Mental dan Merusak Hubungan
Rifki Aditia Novaldi --Foto: ist
Oleh: Rifki Aditia Novaldi. M.I.Kom
Dosen Ilmu Komunikasi, FISIP UBB
___________________________________________
AKTIVITAS “kepo” atau mengintip kehidupan orang lain melalui media sosial tanpa berinteraksi langsung kini menjadi kebiasaan yang nyaris tak terpisahkan dari kehidupan digital masyarakat modern. Namun, sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa perilaku yang selama ini dianggap sepele tersebut ternyata menyimpan dampak psikologis dan sosial yang signifikan.
Penelitian berjudul “Kepo di Media Sosial: Studi Psikologi Komunikasi tentang Efek Stalking Digital terhadap Emosi dan Relasi Sosial” yang dilakukan oleh tim akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung bersama Universitas Anak Bangsa menunjukkan bahwa stalking digital bukan sekadar aktivitas pasif, melainkan bentuk komunikasi satu arah yang sarat muatan emosional.
Penelitian ini melibatkan responden berusia 18–35 tahun yang aktif menggunakan media sosial. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dengan pendekatan kuantitatif korelasional. Hasilnya menunjukkan bahwa perilaku mengamati akun orang lain secara diam-diam tanpa memberi komentar, like, atau pesan memiliki hubungan erat dengan munculnya kecemasan, rasa iri, kecenderungan overthinking, serta penurunan kualitas hubungan sosial.
Banyak orang mengira kepo hanya hiburan ringan. Padahal, secara psikologis, aktivitas ini bisa membebani emosi dan memengaruhi cara individu memandang diri sendiri serta relasinya dengan orang lain.
BACA JUGA:Strategi Inovasi Hilirisasi Produk Pertanian Babel: Penggerak Daya Saing dan Ekonomi Berkelanjutan
Rasa Ingin Tahu Jadi Motif Utama
Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif utama perilaku stalking digital adalah rasa ingin tahu terhadap kehidupan orang lain. Motif ini diikuti oleh kebutuhan akan keterhubungan sosial serta dorongan validasi diri melalui perbandingan sosial. Responden mengaku kerap membuka profil orang lain, termasuk teman, mantan pasangan, hingga figur publik, tanpa niat untuk berinteraksi secara langsung.
Menariknya, penelitian menemukan bahwa semakin tinggi intensitas seseorang melakukan stalking digital, semakin besar kemungkinan ia mengalami emosi negatif. Korelasi positif ditemukan antara stalking digital dengan tingkat kecemasan, rasa iri, dan overthinking. Sebaliknya, kualitas relasi sosial terutama dalam hubungan pertemanan justru mengalami penurunan.
Fenomena ini dijelaskan melalui teori psikologi komunikasi, yang memandang bahwa komunikasi tidak selalu membutuhkan umpan balik langsung untuk memengaruhi pikiran dan perasaan individu. Dalam konteks media sosial, foto, caption, dan unggahan menjadi simbol yang ditafsirkan secara personal oleh pengamat, meskipun tidak ada interaksi nyata.
Ilusi Kedekatan dan Hubungan Semu
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
