Inklusi Pendidikan dan Karakter Anak Berkebutuhan Khusus

Inklusi Pendidikan dan Karakter Anak Berkebutuhan Khusus

Shinta Lestari Oktarini dan Feni Yulianti --Foto: ist

Oleh: Shinta Lestari Oktarini dan Feni Yulianti

Dosen Pendidikan Agama Islam, Universitas Bangka Belitung

___________________________________________

Pendidikan inklusif semakin menjadi arah kebijakan pendidikan nasional. Negara berkomitmen untuk memberikan akses pendidikan bagi semua anak, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Komitmen ini tertuang dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan diperkuat melalui Kurikulum Merdeka, yang menekankan keragaman, pembelajaran yang disesuaikan, dan pembentukan karakter.

Namun, di balik kebijakan ini, muncul pertanyaan penting: apakah sistem pendidikan inklusif saat ini benar-benar membentuk karakter siswa, ataukah hanya memberikan akses ke sekolah?

Pertanyaan ini menjadi relevan ketika kita melihat praktik pendidikan anak-anak dengan kebutuhan khusus di sekolah khusus (SLB). Di Bangka Belitung, pengalaman SLB menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tidak cukup hanya menyediakan ruang belajar. Pendidikan harus mampu membentuk karakter, sikap, dan kemandirian siswa sesuai dengan kemampuan mereka.

Salah satu contoh praktik baik dapat ditemukan di SLBN 31 PKLK Pangkal Pinang. Sekolah ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter berbasis agama, khususnya melalui Pendidikan Agama Islam (PAI), memiliki peran strategis dalam membangun pendidikan inklusif yang lebih manusiawi dan bermakna.

Di sekolah ini, pendidikan agama tidak dipahami sebagai mata pelajaran formal semata. Pendidikan agama dilaksanakan sebagai proses penanaman nilai-nilai moral dan spiritual yang terintegrasi ke dalam kehidupan sehari-hari siswa. Nilai-nilai ketakwaan, kemandirian, dan kesopanan menjadi fokus utama pembentukan karakter bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus.

BACA JUGA:Wafatnya Seorang Penjaga Aqidah: Biografi Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi

BACA JUGA:Etika Perantau Minang di Bangka Belitung: Ujian Adaptasi dan Kesadaran Diri

Guru tidak memaksakan pencapaian akademik seperti di sekolah reguler. Pembelajaran disesuaikan dengan kondisi psikologis, intelektual, dan sosial siswa. Strategi pembelajaran fleksibel dan kontekstual, dengan penekanan kuat pada teladan dan pengulangan.

Anak-anak terbiasa berdoa bersama sebelum dan setelah belajar, mengucapkan salam, bersikap sopan kepada guru dan teman, serta dilatih untuk melakukan aktivitas sederhana secara mandiri. Proses ini dilakukan secara konsisten dan berulang, karena bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus, pembentukan kebiasaan merupakan kunci utama dalam pembentukan karakter.

Pendekatan ini sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka, yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran. Namun, dalam praktik pendidikan inklusif secara umum, prinsip ini seringkali tidak diimplementasikan secara optimal. Banyak sekolah masih menilai keberhasilan inklusi dari perspektif administratif, seperti jumlah siswa berkebutuhan khusus yang diterima, daripada dari kualitas proses pembelajaran dan pembentukan karakter.

Kemandirian merupakan salah satu pencapaian penting dalam pendidikan karakter berbasis agama di SLB. Kemandirian tidak diartikan sebagai kemampuan melakukan segala sesuatu tanpa bantuan. Kemandirian dipahami sebagai kemampuan hidup sesuai dengan potensi dan keterbatasan diri.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: