Tuliskan bukan hanya apa yang terjadi, tetapi juga mengapa peristiwa itu penting. Dari sana, sebuah tulisan dapat berkembang. Barangkali pada awalnya hanya beberapa paragraf.
BACA JUGA:Hidup Kita (Juga) Layak untuk Ditulis
Tidak semua orang mampu berbicara di depan banyak orang. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menyampaikan gagasannya melalui panggung besar. Namun, hampir setiap orang dapat mengambil pena, membuka buku, atau mengetik beberapa kalimat.
Maka, jangan menunggu memiliki cerita yang luar biasa. Berceritalah dengan menulis. Sebab, ketika pengalaman dituliskan, ia tidak lagi hanya menjadi milik kita. Ia berpeluang menjadi pembelajaran bagi orang lain.
Ketika suatu hari kita tidak lagi berada di sana untuk menceritakannya, tulisanlah yang mungkin tetap menjadi saksi bahwa kita pernah menjalani, memaknai, dan meninggalkan sesuatu dari perjalanan kehidupan.**
======
Budi Rahmad, alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Bengkulu. Saat ini bekerja sebagai wartawan sekaligus editor di Koran Babel Pos, koranbabelpos,id, dan babelpos.id.
Ia juga merupakan founder di Rumah Baca Spasi Pangkalpinang dan relawan pada Komunitas Depati Literasi. Tahun 2023 mendapat penghargaan Jurnalis Pelopor Literasi Daerah dari Pemprov Bangka Belitung. Empat cerpennya masuk dalam kumcer Menembus Pintu Langit yang diterbitkan PWI Pusat tahun 2023.