Jangan Biarkan Ceritamu Hilang, Menulislah Agar Memberi Makna

Jumat 09-10-2026,09:50 WIB
Reporter : Budi Rahmad
Editor : Budi1

SEORANG sahabat berkata saat diskusi meja kopi, bahwa ini senang bercerita, tetapi malas menuliskannya. Lalu ia bertanya "Bisakah kamu membantu menuliskannya?" Pertanyaan tersebut tidak langsung saya jawab. Saya hanya menatapnya dengan memberikan senyum. Lalu dengan perlahan mengatakan "berceritalah dengan menulis". 

Manusia adalah makhluk yang gemar bercerita. Sejak dahulu, manusia menyampaikan pengalaman, pengetahuan, harapan, bahkan ketakutannya melalui cerita. Sebelum mengenal tulisan, manusia meninggalkan jejak cerita melalui lukisan di dinding gua, simbol, tradisi lisan, dan berbagai bentuk ekspresi budaya.

Ketika tulisan ditemukan, cara manusia menyimpan dan menyebarkan cerita mengalami perubahan besar. Pengalaman seseorang tidak lagi harus berhenti pada ingatan atau percakapan dari mulut ke mulut. Cerita dapat disimpan, dibaca kembali, diwariskan, dan menjangkau orang-orang yang bahkan tidak pernah bertemu dengan penulisnya.

BACA JUGA:Pegiat Literasi dan Tantangan Menulis

Dalam konteks inilah menulis sesungguhnya bukan sekadar keterampilan berbahasa. Menulis adalah salah satu cara manusia mengabadikan pengalaman dan membangun pengetahuan. Ada anggapan bahwa hanya orang-orang yang mengalami peristiwa besar yang memiliki cerita menarik untuk ditulis. 

Anggapan semacam ini membuat banyak orang enggan menulis. Mereka merasa kehidupannya terlalu biasa untuk dituangkan menjadi tulisan. Padahal, cerita tidak selalu lahir dari peristiwa yang luar biasa.

Seorang guru yang melihat perubahan perilaku siswanya, seorang ibu yang menyaksikan tumbuh kembang anaknya, seorang pekerja yang menjalani rutinitas setiap hari, atau seorang anak yang sedang berusaha memahami dunia di sekitarnya, semuanya memiliki pengalaman yang bernilai.

Yang menjadikan sebuah pengalaman penting bukan semata-mata peristiwa yang terjadi, melainkan bagaimana seseorang memaknai peristiwa tersebut. Di sinilah menulis menjadi menarik. Menulis tidak hanya merekam apa yang terjadi, tetapi juga mengajak seseorang bertanya tentang makna di balik apa yang terjadi.

BACA JUGA:Keterampilan Membaca dan Menulis: Fondasi dalam Upaya Membangun Karakter Siswa

Ketika seseorang menuliskan pengalaman tentang kegagalan, misalnya, ia tidak sekadar mencatat sebuah peristiwa. Ia dapat menemukan alasan mengapa kegagalan itu terjadi, bagaimana perasaannya ketika menghadapinya, dan apa yang dipelajarinya setelah peristiwa tersebut. Dengan demikian, menulis dapat menjadi bentuk refleksi.

 

Menulis dan Proses Berpikir

Menulis memiliki hubungan yang erat dengan proses berpikir. Ketika seseorang menulis, ia harus memilih gagasan, menyusun informasi, menentukan hubungan antara satu gagasan dengan gagasan lainnya, kemudian menyampaikannya melalui bahasa yang dapat dipahami pembaca. 

Proses tersebut membuat kegiatan menulis bukan pekerjaan mekanis semata. Menulis menuntut seseorang untuk mengolah pengalaman dan informasi menjadi gagasan yang lebih terstruktur.

Tidak mengherankan jika kegiatan menulis sering digunakan dalam dunia pendidikan sebagai sarana untuk melatih kemampuan berpikir kritis. Peserta didik, misalnya, tidak cukup hanya diminta mengetahui sebuah informasi. Mereka juga perlu menjelaskan, menghubungkan, membandingkan, dan memberikan alasan terhadap apa yang mereka pikirkan.

Kategori :