Namun, tidak semua yang diketahui penulis layak untuk diumbar atau dipublikasikan. Penulis memiliki kebebasan untuk bercerita, tetapi orang lain juga memiliki hak atas privasi. Karena itu, pengalaman pribadi harus diperlakukan dengan tanggung jawab. Nama bisa diubah, identitas bisa disamarkan. Bahkan detail tertentu dapat dihilangkan ketika tidak relevan dengan gagasan utama.
Pengalaman pribadi tidak harus berhenti sebagai kisah tentang diri sendiri. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih besar. Seperti, seorang guru bercerita tentang murid yang tidak memiliki buku di rumah. Cerita itu kemudian dapat membawa kita berbicara tentang kesenjangan akses bacaan.
Contoh lainnya seperti seorang orang tua menceritakan kesulitan mendampingi anak belajar. Cerita itu dapat membuka pembicaraan tentang beban pendidikan keluarga. Seorang warga bercerita tentang sulitnya mendapatkan pelayanan publik. Pengalaman itu dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan kualitas pelayanan pemerintah. Dengan demikian, pengalaman pribadi memperoleh dimensi sosial.
Menulis dari pengalaman pribadi bukan berarti menganggap kehidupan sendiri lebih penting daripada kehidupan orang lain. Sebaliknya, ia merupakan pengakuan bahwa setiap manusia memiliki pengalaman yang layak didengar.
Di era kecerdasan buatan, di saat artikel instan dapat dihasilkan dalam hitungan detik oleh mesin, tulisan yang berakar dari pengalaman hidup yang autentik menjadi komoditas yang paling langka dan berharga. Mesin algoritma dapat merangkum data, tetapi ia tidak pernah merasakan patah hati, kelegaan setelah badai berlalu, atau aroma hujan di tanah kampung halaman.
Sudah saatnya berhenti merasa bahwa kisah hidup kita terlalu sepele untuk dituliskan, karena di tangan penulis yang tepat, sebuah kisah privat adalah cermin di mana sebuah masyarakat dapat melihat wajahnya sendiri. Jadi, mulai sekarang, berhentilah mengatakan bahwa saya tidak punya cerita. Karena banyak sekali yang bisa ditulis dari diri sendiri. Hanya perlu belajar menjadi pengamat atas kehidupan sendiri.**
Budi Rahmad, merupakan wartawan di Harian Babel Pos Grup. Lahir di Bengkulu dan alumni Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Bengkulu. Menulis cerita pendek, puisi, dan esai untuk media massa. Bersama istri sepakat mendirikan Rumah Baca Spasi Pangkalpinang. Tahun 2023 mendapat penghargaan Jurnalis Pelopor Literasi Daerah dari Pemprov Bangka Belitung.