“Banyak daun sirih di kebun KWT yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Saya berpikir bagaimana tanaman ini bisa memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Akhirnya saya mencoba membuat sabun cuci piring berbahan daun sirih,” ujarnya.
Daun sirih dipilih sebagai bahan utama karena diketahui memiliki sifat antibakteri alami.
Agar aromanya lebih segar, Roteni memadukannya dengan ekstrak jeruk nipis.
BACA JUGA:PT Timah Perkuat Budaya ESG, Bekali Karyawan Wujudkan Pertambangan Berkelanjutan
Pada tahap awal, produk tersebut dipasarkan kepada sesama anggota KWT, kelompok PKK, dan lingkungan sekitar.
Respons konsumen yang positif membuat Roteni semakin yakin mengembangkan usahanya.
Kini Bunda Fresh telah dipasarkan dalam berbagai ukuran kemasan, mulai dari pouch 250 mililiter, 450 mililiter, botol pump 500 mililiter, botol dan pouch 750 mililiter, kemasan 1 liter hingga jeriken 5 liter.
“Sebelumnya saya belum berani memasarkan secara besar-besaran karena belum memiliki izin edar.
Penjualannya masih di lingkungan teman-teman dan anggota kelompok saja.
Tapi sekarang izin edar sudah keluar sehingga bisa memasarkannya lebih luas,” katanya.
Melihat potensi usaha tersebut, PT TIMAH Tbk memberikan pendampingan agar seluruh dokumen legalitas dapat segera terisi.
BACA JUGA:Dorong Transformasi Layanan Melalui KLHN 2026
Menurut Roteni, dukungan perusahaan sangat membantu karena biaya dan proses administrasi perizinan cukup besar bagi pelaku usaha kecil.