BABELPOS.ID, PANGKALPINANG – Keyakinan masyarakat terhadap kondisi perekonomian di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tetap terjaga pada tingkat yang positif sepanjang Mei 2026.
Hal ini tergambar dari hasil Survei Konsumen yang dirilis Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, menyampaikan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Mei 2026 tercatat sebesar 124,75. Angka ini tetap berada di atas ambang batas 100, yang menandakan persepsi masyarakat masih dalam zona optimis, dan sedikit lebih tinggi dibandingkan IKK nasional yang mencapai 120,9 pada periode yang sama.
“Optimisme ini didukung oleh dua komponen utama, yaitu Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini yang tetap solid dan Indeks Ekspektasi Konsumen yang menunjukkan peningkatan,” jelas Rommy di Pangkalpinang, Senin (15/6/2026).
BACA JUGA:Ekonomi Bangka Belitung Tumbuh Lebih Tinggi, Bank Indonesia Beberkan Pemicunya
Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat sebesar 124,50.
Angka ini mencerminkan penilaian konsumen terhadap kondisi penghasilan, ketersediaan lapangan kerja, serta daya beli terhadap barang tahan lama.
Berdasarkan hasil survei, sebanyak 34,5 persen responden menilai penghasilan mereka saat ini lebih baik dibandingkan enam bulan sebelumnya.
Sementara itu, terkait konsumsi barang tahan lama seperti furnitur dan perabotan rumah tangga, sekitar 28 persen responden menyatakan pembeliannya meningkat, sedangkan 63,5 persen lainnya menilai kondisinya relatif stabil.
BACA JUGA:Bank Indonesia Gelar Diseminasi Laporan Perekonomian, Dorong Optimisme Ekonomi Bangka Belitung 2026
Sisi lain yang turut mengangkat tingkat optimisme adalah Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang naik menjadi 125,00 pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 124,00.
Indeks ini menggambarkan pandangan masyarakat terhadap perkembangan ekonomi dalam enam bulan ke depan.
Sebanyak 42,5 persen responden memperkirakan kegiatan usaha akan meningkat, sementara 42 persen lainnya memprediksi kondisi akan tetap stabil.
Peningkatan ini dipicu oleh faktor kebijakan pemerintah, di mana 21,2 persen responden menyebutkan adanya subsidi dan insentif, serta 20 persen lainnya menilai kemudahan akses ke lembaga perbankan turut mendukung perkembangan usaha.