Mewaspadai Bahaya AI di Era Keuangan Digital

Senin 02-03-2026,08:30 WIB
Reporter : Ardi Pratama
Editor : Jal

Ditulis oleh: Ardi Pratama

Manajer Kepala Unit Implementasi Kebijakan SP

---------------------------------------------------

Satu dekade lalu, hadirnya android dan pesatnya adopsi teknologi telepon pintar membawa perubahan perilaku manusia dalam memperoleh informasi. Tidak berhenti di situ, manusia juga ”termodernisasi” dalam menyelesaikan berbagai persoalannya sehingga memberikan pengaruh luar biasa pada perekonomian. Kenikmatan inilah yang kemudian mendorong lahirnya aneka penyempurnaan teknologi dan inovasi hingga saat ini. Hadirnya Artificial Intelligence atau disebut juga Akal Imitasi (AI) merupakan simpul dari berbagai gagasan teknokrat untuk menyempurnakan digitalisasi yang telah mengakar kuat. Meski keberadaan AI membawa banyak manfaat, tak sedikit pula tangan-tangan kotor yang menggunakannya keliru hingga merugikan orang lain.

Kehadiran AI secara mutlak membawa manfaat bersama dengan risiko yang mengintai. Jika kita berpetualang di media sosial akhir-akhir ini, kita bisa melihat kehadiran konten-konten yang sepenuhnya dibuat dengan AI. Menariknya, konten-konten tersebut seringkali menyerupai video yang diambil langsung di sekitar kita, sehingga seolah nyata. Dalam kaca mata hiburan, hal ini tentu menjadi sebuah penyegaran. Namun demikian, dalam kaca mata formal, hal ini menjadi sebuah sinyal bagi kita bahwa AI berpeluang memproduksi sesuatu yang kelihatan asli namun keliru.

Berbicara tentang potensi penyalahgunaan AI, bukan tidak mungkin penjahat menggunakannya untuk menipu orang lain demi mendapatkan keuntungan sepihak. Teknologi deepfake, misalnya, kini mampu mengimitasi wajah dan suara tokoh publik atau bahkan kerabat dekat dengan tingkat akurasi yang mengerikan. Teknik rekayasa sosial (social engineering) pun berevolusi, di mana pelaku tidak lagi sekadar mengirim pesan teks acak, melainkan mampu menciptakan narasi manipulatif yang sangat personal dan meyakinkan. Hal ini menciptakan lubang keamanan baru di mana batas antara kebenaran dan manipulasi menjadi sangat tipis, yang pada akhirnya menyasar titik paling rentan dalam ekosistem digital yaitu kepercayaan manusia.

Menyikapi ancaman yang semakin ”kreatif” ini, kita wajib memperkuat kewaspadaan dan pemahaman terhadap keamanan transaksi keuangan di era digital ini. Untuk memperkuatnya, kita mesti menumbuhkan budaya "skeptisisme sehat" terhadap setiap informasi atau instruksi transaksi yang datang melalui kanal digital. Literasi digital tidak boleh lagi sebatas cara mengoperasikan smartphone, melainkan harus mencakup kemampuan verifikasi berlapis. Kita harus memastikan bahwa perlindungan teknis seperti autentikasi dua faktor (2FA) dibarengi dengan ketelitian untuk tidak membagikan data sensitif, seperti kode OTP atau PIN kepada siapa pun, terlepas dari seberapa meyakinkannya profil sang peminta.

Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa meskipun kita didukung dengan berbagai teknologi keamanan untuk menjaga aset keuangan kita secara digital, peran kita untuk waspada dan paham perkembangan teknologi menjadi sangat krusial. Teknologi hanyalah alat, sementara manusialah pemegang kendali utamanya. Di tengah laju kecerdasan buatan yang kian tak terbendung, kecerdasan kitalah yang harus tetap menjadi benteng pertahanan terakhir. Menjadi adaptif terhadap inovasi tanpa meninggalkan sikap mawas diri adalah kunci agar kita tidak tergilas oleh sisi gelap kemajuan teknologi yang kita ciptakan sendiri.

BACA JUGA:MENYOAL PILKADA LANGSUNG DAN ATAU TAK LANGSUNG

BACA JUGA:Etika Perantau Minang di Bangka Belitung: Ujian Adaptasi dan Kesadaran Diri

Kategori :