Ketika Ramadan Menghidupkan Ekonomi Rakyat

Ketika Ramadan Menghidupkan Ekonomi Rakyat

Siti Uswatun Hasanah--Foto IST

Oleh: Siti Uswatun Hasanah

Analis Yunior  Fungsi Pelaksanaan Pengembangan UMKM, Keuangan Inklusif, dan Syariah KPw Bank Indonesia Provinsi Kep. Bangka Belitung

------------------------------------------------------------

Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Selain menguatkan dimensi spiritual, Ramadan juga menjadi momentum bergeraknya perekonomian rakyat. Bagi pengusaha Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), bulan ini menghadirkan peluang yang nyata seiring meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat.

Di Bangka Belitung, denyut ekonomi Ramadan terlihat dari berbagai aktivitas usaha kecil yang tumbuh di tengah masyarakat. Mulai dari pasar takjil, pakaian muslim, hampers, hingga aneka kue lebaran, UMKM hadir memenuhi kebutuhan masyarakat selama bulan suci. Bagi banyak pengusaha kecil, Ramadan bahkan menjadi periode penting untuk meningkatkan omzet sekaligus memperluas pasar.

Momentum ini juga terlihat dalam berbagai bazar Ramadan yang digelar di sejumlah titik. Pemerintah bersama Bank Indonesia turut menghadirkan dukungan melalui kegiatan seperti Bazar Ramadan Urban Fest yang berlangsung pada 20 Februari hingga 11 Maret 2026 di kawasan Masjid Agung Kubah Timah. Melalui ruang-ruang seperti ini, pengusaha UMKM memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan produk sekaligus meningkatkan penjualan.

Namun lonjakan permintaan selama Ramadan juga membawa tantangan tersendiri. Pengusaha harus mampu mengelola stok bahan baku, menjaga kualitas produk, serta mengatur modal kerja dalam waktu yang relatif singkat tetapi sangat padat. Bagi UMKM di daerah, tantangan ini sering kali semakin terasa karena keterbatasan akses distribusi dan sumber daya.

BACA JUGA:BUMDes dan Koperasi Jalan Baru Mengatasi Ketimpangan Desa

BACA JUGA:Mengendalikan Inflasi dari Meja Makan

Di tengah dinamika tersebut, stabilitas harga menjadi faktor penting bagi keberlangsungan usaha kecil. Bank Indonesia terus mencermati bagaimana pergerakan harga dan daya beli masyarakat memengaruhi aktivitas ekonomi di tingkat akar rumput. Bagi pengusaha UMKM, perubahan harga bukan sekadar angka statistik, tetapi realitas yang langsung memengaruhi biaya produksi sekaligus kemampuan konsumen untuk berbelanja.

Pada Februari 2026, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tercatat mengalami deflasi sebesar 0,64 persen secara bulanan (mtm). Perkembangan tersebut turut membentuk inflasi tahunan sebesar 3,31 persen (yoy). Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga relatif terkendali, sehingga membantu menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya beli masyarakat.

Ketika harga bahan baku dan kebutuhan pokok relatif stabil, pengusaha UMKM memiliki ruang yang lebih baik untuk merencanakan produksi dan mempertahankan kualitas produk. Stabilitas ini juga memungkinkan UMKM menetapkan harga jual yang tetap wajar bagi konsumen, tanpa harus mengorbankan kualitas maupun pelayanan.

Hal yang sering terlupakan, pengusaha UMKM tidak hanya berperan sebagai produsen, tetapi juga sebagai bagian dari rumah tangga yang menghadapi tekanan biaya hidup. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat, sebagian modal usaha dapat terpakai untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dampaknya dapat mengurangi kemampuan usaha untuk berkembang. Karena itu, pengendalian inflasi menjelang hari besar keagamaan pada dasarnya adalah upaya menjaga agar perputaran ekonomi rakyat tetap berlangsung secara sehat.

Dalam konteks ini, UMKM memegang peran strategis karena berada di persimpangan antara konsumsi rumah tangga, aktivitas usaha lokal, dan sumber penghidupan masyarakat. Menjaga stabilitas menjelang Idulfitri berarti memastikan bahwa momentum ekonomi musiman dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi rakyat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: