Oleh: Dato' Akhmad Elvian, DPMP.
Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
--------------------------------------------------------------------
Aktivitas para pemimpin RI selama pengasingan di Bangka di samping berjuang melalui Diplomasi Internasional dengan Delegasi Belanda, KTN dan UNCI serta BFO adalah berkunjung ke kampung dan kota di Pulau Bangka dalam rangka menumbuhkan semangat Nasionalisme dan patriotisme sehingga pekik merdeka menggema di seantero pulau Bangka.
Salah satu wilayah yang dikunjungi pemimpin Republik yang diasingkan di Bangka adalah Kota Tempilang. Pada hari Minggu, tanggal 27 Maret 1949, bertepatan 27 Jumadil Awal 1368 Hijriah masyarakat Kampung Tempilang mengadakan kegiatan festival panen yang dipimpin langsung oleh Gegading Abdul Karim. Kegiatan ini diluar jadwal tahunan perayaan sedekah kampung, seperti Perang Ketupat yang diselenggarakan setiap menjelang bulan Ramadhan. Diawali kunjungan Badrun (Ketua PORI dan SENI Mentok) ke Tempilang dan memberitahukan kesediaan para pemimpin Republik Indonesia datang ke Tempilang. Menjelang hari pelaksanaan, Gegading (Kepala Kampung) mengimbau agar penduduk menyiapkan makanan untuk di bawa ke Balai pertemuan dan mengumpulkan uang untuk dipergunakan membiayai berbagai pengeluaran, termasuk biaya sewa kendaraan khusus anggota PORI.
Informasi rencana kehadiran Soekarno dan para pemimpin Republik ke Tempilang menyebar ke kampung-kampung sekitar Tempilang, seperti Tanjungniur, Penyampak, Sangku, Kotawaringin dan Kelapa. Sehingga pada hari Minggu itu, gelombang kedatangan masyarakat ke Tempilang mencapai 3000 orang dan tamu dari Mentok sebanyak 150 orang.
Soekarno hadir didampingi para pemimpin Republik lainnya, Kepala Pemerintahan Mentok, Pengurus Pegadaian, Kepala kantor PTT (Kantor Pos), Kepala Dinas Distribusi, Kepala Pusat Listrik dan grup musik dari Mentok. Para tamu diterima di Balai Pertemuan, disajikan aneka makanan, hiburan musik tradisional dan anak-anak sekolah menyanyikan Indonesia Raya.
Dalam sambutannya, Bung Hatta mengenang kembali perjalanan perjuangan politik untuk meraih kedaulatan rakyat Indonesia sejak bulan Agustus 1945. Masyarakat Bangka sangat mendukung perjuangan ini seperti ditunjukkan dalam setiap kunjungan ke beberapa kota, seperti Belinyu, Sungailiat, Pangkalpinang, Koba dan Toboali.
Setelah itu Bahrun ketua PORI mengajak Soekarno dan para pemimpin lainnya untuk ikut permainan rakyat. Kegiatan di Tempilang berjalan lancar dan tertib. Rombongan pemimpin Republik melanjutkan perjalanan menuju Pangkalpinang untuk melakukan pertemuan dengan UNCI dan beberapa pejabat Republik dari Jakarta. Pada tanggal 28 Maret 1949, seorang bernama Nangjoe bin Wahid dari Palembang mengunjungi Muhammad Hatta dan para pemimpin Republik lainnya di Pangkalpinang. Nangjoe bin Wahid merupakan seorang saudagar yang baru tiba di Tempilang dengan membawa muatan berupa kopi dan barang dagangan lainnya. Tidak ketahui maksud dan tujuan bertemu dengan Drs. Muhammad Hatta.
Disarikan dari buku Kenang Mengenang Meraih Kemenangan, Akhmad Elvian dan Ali Usman, 2021, halaman 215, 216
BACA JUGA:MENYOAL PILKADA LANGSUNG DAN ATAU TAK LANGSUNG
BACA JUGA:Wafatnya Seorang Penjaga Aqidah: Biografi Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi