Pemkab Bangka Barat Perkuat Ekonomi Desa Melalui Sekolah BUMDesa
Kepala Dinsos PMD Kabupaten Bangka Barat Achmad Nursyandi (dua dari kanan) bersama narasumber Yang Fara Dina (dua dari kiri) dan Kepala Desa Simpangtiga Sartojoyo (paling kiri) pada kegiatan Sekolah BUMDesa Ubok Sekicing di Desa Sipangtiga. (dok. ANTARA)--
BABELPOS.ID, MENTOK - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), berupaya memperkuat ekonomi desa melalui Program Sekolah BUMDesa Ubok Sekicing.
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Bangka Barat Achmad Nursyandi di Mentok, Bangka Barat, Rabu, mengatakan Sekolah Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) Ubok Seciking telah dilaksanakan sejak 2022 dan sampai saat ini sudah cukup berhasil menunjukkan hasil positif terhadap perkembangan BUMDesa di beberapa lokasi.
BACA JUGA:Pangkalpinang Antisipasi Penyebaran LGBT Melalui Pembinaan Mental
"Sekolah BUMDesa Ubok Sekicing ini merupakan salah satu bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat ekonomi desa, kita latih para pengelola BUMDesa agar semakin terampil dalam pola manajerial dan berwawasan luas dalam pengembangan bisnis," ujar dia.
Ia mengatakan, Sekolah BUMDesa Ubok Sekicing terakhir dilaksanakan pada akhir Juli 2026 di Desa Simpangtiga, Simpangteritip dengan menghadirkan narasumber praktisi bisnis dan technopreneur Yang Fara Dina yang merupakan Founder & President Director PT Metro Asia Pasifik.
BACA JUGA:Penjaga SD 15 Puput Toboali Ditemukan Meninggal, Penyebab Masih Misterius
Program tersebut menjadi wadah pembelajaran bagi para pengelola BUMDesa untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan, tata kelola usaha dan kemampuan menghadapi tantangan dunia bisnis yang semakin kompetitif.
"BUMDesa tidak cukup hanya berjalan, namun kita terus mendorong agar semakin berkembang.
Ini dibutuhkan komitmen, disiplin dan kemauan untuk terus belajar agar BUMDesa benar-benar mampu menjadi motor penggerak ekonomi desa," katanya.
Narasumber Yang Fara Dina mengatakan tantangan terbesar BUMDesa saat ini bukan terletak pada produk, melainkan pada pola pikir pengelola yang kurang berani keluar dari zona nyaman, bergantung pada bantuan pemerintah dan memiliki jejaring pemasaran yang terbatas.
BACA JUGA:Menghubungkan Gagasan, Menginspirasi Perubahan: Menjadi Insan Humas yang Berkemajuan dan Berdampak
Ia mengajak seluruh peserta untuk membangun rasa ingin terus belajar, memperkuat rasa memiliki terhadap BUMDesa dan aktif membangun jejaring agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Selain perubahan pola pikir, kata dia, pengelola juga perlu menguatkan empat pilar utama bisnis BUMDesa, yaitu peningkatan kualitas produk, penguatan sumber daya manusia, tata kelola keuangan yang profesional dan legalitas/branding usaha.
BACA JUGA:MINDucation Kembali Hadir, MIND ID dan PT Timah Dampingi Siswa Pemali Kejar Kampus Impian
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
