Tren Potensi Radikalisme di Babel Mengalami Penurunan

Tren Potensi Radikalisme di Babel Mengalami Penurunan

Kajian Senin Kamis tren potensi radikalisme di negeri Laskar Pelangi yang digelar secara virtual. --Foto IST

BABELPOS.ID, PANGKALPINANG – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar kegiatan Kajian Senin Kamis (KSK) bertema “Tren Potensi Radikalisme di Negeri Laskar Pelangi: Internalisasi Hasil Survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Tahun 2025”, Senin (04/05).

Kegiatan ini menghadirkan Kabid Pengkajian dan Penelitian FKPT Babel, Dinar Pratama, sebagai narasumber, serta diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai instansi, di antaranya unsur Intelkam Polda Kepulauan Bangka Belitung, Densus 88 AT Polri, Badan Intelijen Negara Daerah, Korem 045/Gaya, Kejaksaan Tinggi, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Agama, Kesbangpol, Dinas Pendidikan, hingga perwakilan SMA/SMK se-Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Acara dibuka oleh Direktur Pencegahan BNPT, Brigjen TNI Dr. Sigit Karyadi, S.H., M.H., yang menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi momentum refleksi dalam memahami hasil survei Indeks Potensi Radikalisme (IPR) Tahun 2025. Ia menyampaikan pentingnya penerapan kebijakan berbasis data di daerah serta penguatan sinergi antara BNPT, FKPT, kementerian/lembaga, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET).

Selain itu, BNPT bersama FKPT dan stakeholder terus mengimbau pembatasan penggunaan platform media sosial yang mengandung muatan negatif, serta mendorong literasi digital masyarakat guna menangkal penyebaran ideologi radikal.

BACA JUGA:FKPT Babel dan Densus 88 Ajak Mahasiswa IAIN SAS Waspadai IRET

BACA JUGA:Ajak Kampus Cegah IRET, FKPT Babel dan Densus 88 Gelar Kuliah Umum di UBB

Dalam pemaparannya, Dinar Pratama menjelaskan bahwa riset IPR 2025 bertujuan untuk memetakan potensi radikalisme di masyarakat dari sisi demografi dan geografi, mengukur tingkat awareness terhadap BNPT dan FKPT, serta menganalisis perilaku digital masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif melalui wawancara tatap muka kepada responden. Indeks Potensi Radikalisme (IPR) sendiri disusun berdasarkan tiga dimensi utama, yakni dimensi pemahaman (7 indikator), sikap (6 indikator), dan tindakan (8 indikator).

Hasil survei menunjukkan bahwa Indeks Potensi Radikalisme Tahun 2025 berada pada angka 13,7, mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 14,3. Penurunan terjadi pada seluruh dimensi, meskipun nilai tertinggi masih berada pada dimensi sikap, diikuti pemahaman dan tindakan.

Dari sisi perilaku masyarakat, mayoritas publik memperoleh informasi keagamaan dari keluarga, tokoh agama, internet, dan rumah ibadah. Penetrasi internet di kalangan generasi muda sangat tinggi, bahkan mencapai 98% pada generasi Z. Konsumsi internet rata-rata berada pada durasi 1–3 jam per hari, dengan kelompok muda memiliki durasi lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.

Platform digital seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, TikTok, dan Instagram menjadi sumber utama konsumsi informasi. Sebanyak 58% netizen mengakses konten keagamaan melalui media tersebut, dengan preferensi konten berupa video berdurasi kurang dari 30 menit.

BACA JUGA:FKPT Babel Peringatkan Bahaya Rekrutmen Teroris Lewat Game Online, Sekolah Diminta Perkuat Pengawasan

BACA JUGA:BNPT dan FKPT Babel Ajak Cegah Radikalisme dan Terorisme Lewat Rembuk Merah Putih

Selain itu, sekitar 30% netizen turut menyebarkan konten keagamaan melalui berbagai platform digital, meskipun dengan frekuensi yang relatif rendah, yakni beberapa kali dalam sebulan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: