Lapas Sebagai Ruang Pembentukan Tenaga Kerja Profesional

Lapas Sebagai Ruang Pembentukan Tenaga Kerja Profesional

Mohkristoyib Nurwakhid--Foto IST

BACA JUGA:Detik-detik Babel di Ambang Kehacuran Akibat Ambisi Energi Terbarukan

Revitalisasi di Tengah Kelebihan Kapasitas

Kelebihan kapasitas di banyak lapas sering dipandang sebagai persoalan yang hanya berkaitan dengan keterbatasan ruang, keamanan, kesehatan, dan pelayanan dasar. Padahal, kondisi tersebut juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat program revitalisasi pemasyarakatan secara lebih produktif.

Rokhman (2020) memandang overkapasitas sebagai kondisi yang dapat diarahkan menjadi peluang dalam optimalisasi revitalisasi pemasyarakatan. Melalui program pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, kerajinan, dan kegiatan kemandirian lainnya, warga binaan dapat memperoleh keterampilan yang berguna bagi kehidupan setelah bebas.

Pendekatan tersebut tidak berarti bahwa persoalan kelebihan kapasitas harus dianggap selesai hanya karena tersedia kegiatan kerja. Kelebihan kapasitas tetap memerlukan penanganan struktural melalui kebijakan pemidanaan, penguatan alternatif pemidanaan, perbaikan layanan kesehatan, dan peningkatan kapasitas fasilitas. Akan tetapi, selama kondisi itu masih terjadi, lapas dapat mengoptimalkan waktu dan potensi warga binaan melalui kegiatan pembinaan yang bermakna.

Unit produksi di lapas dapat dikembangkan sebagai ruang belajar kerja yang nyata. Warga binaan tidak hanya diajarkan cara membuat suatu produk, tetapi juga dilatih untuk memahami proses produksi, menjaga kualitas, mengatur waktu, menggunakan alat dengan aman, mengelola bahan baku, menghitung biaya, dan mengenali kebutuhan konsumen. Dalam konteks ini, kegiatan kerja di lapas menjadi bentuk pendidikan praktis yang menanamkan profesionalisme.

Sebagai contoh, program budidaya ikan tidak cukup hanya mengajarkan teknik pemberian pakan. Peserta juga dapat mempelajari pencatatan biaya, pemantauan kualitas air, pengelolaan hasil panen, pengemasan, hingga pemasaran. Pola yang sama dapat diterapkan dalam usaha pertanian, produksi makanan, kerajinan, percetakan, meubel, atau jasa perbaikan sederhana.

Keterampilan Harus Berujung pada Kesempatan

Masalah utama dalam pembinaan keterampilan di lapas bukan hanya soal tersedianya pelatihan, tetapi juga keberlanjutan setelah warga binaan bebas. Sertifikat pelatihan dan pengalaman kerja akan memiliki arti terbatas apabila mantan warga binaan tetap ditolak ketika mencari pekerjaan.

Stigma sosial masih menjadi penghambat serius dalam proses reintegrasi. Banyak mantan narapidana menghadapi keraguan dari pemberi kerja, penolakan dari lingkungan sosial, dan keterbatasan akses modal untuk memulai usaha. 

Dalam situasi seperti ini, pelatihan di lapas perlu terhubung dengan dunia luar melalui kemitraan yang konkret.

Lapas tidak dapat bekerja sendiri. Dunia usaha, pemerintah daerah, balai latihan kerja, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, lembaga sertifikasi, dan pelaku UMKM perlu dilibatkan dalam membangun jalur transisi bagi warga binaan. Bentuk kolaborasinya dapat berupa penyusunan kurikulum pelatihan, penyediaan instruktur praktisi, sertifikasi keterampilan, magang terbatas, penyerapan tenaga kerja, pemasaran produk, pendampingan usaha, hingga akses pembiayaan mikro.

Sertifikasi kompetensi juga penting untuk meningkatkan kepercayaan pemberi kerja. Warga binaan yang memiliki bukti keterampilan yang diakui akan lebih mudah menunjukkan bahwa dirinya memiliki kemampuan kerja yang dapat diukur. Dalam pengembangan sumber daya manusia, sertifikasi bukan hanya simbol kelulusan, tetapi instrumen untuk memperkuat pengakuan profesional atas kompetensi seseorang.

Di sisi lain, mantan warga binaan yang memilih jalur usaha mandiri memerlukan pendampingan yang tidak kalah penting. Mereka membutuhkan pengetahuan dasar tentang perencanaan usaha, pengelolaan keuangan, pemasaran digital, pelayanan pelanggan, dan pengelolaan risiko. Jika pembinaan tersebut dimulai sejak berada di lapas dan dilanjutkan setelah bebas, peluang untuk membangun penghidupan yang legal dan produktif akan semakin besar.

Pembinaan yang Menyentuh Keterampilan dan Karakter

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: