KITA SEPERTI TIKUS MATI DI LUMBUNG PADI

KITA SEPERTI TIKUS MATI DI LUMBUNG PADI

Erwandi--Foto IST

​Lingkungan kita hancur; bahkan kalau panas kita kekeringan, kalau hujan kita kebanjiran. Itulah derita saat ini yang kita rasakan, dan sampai kapan keadaan ini akan berakhir?

​Seharusnya hasil korupsi timah yang ratusan triliun, kalau dibagi dengan masyarakat Babel yang jumlah penduduknya hanya 1,6 juta jiwa, bisa menghasilkan sekitar 1,5 miliar rupiah per KK. Tapi nyatanya tidak ada perhatian dari pemerintah, dan kehidupan masyarakat semakin hari semakin susah. Kalau dilihat dari sejarah, Pulau Bangka Belitung ini seperti cerita Pulau Dabo Singkep: habis manis sepah dibuang, meninggalkan sisa kepahitan dari hasil tambang yang tadinya berjaya kini menjadi menderita.

​Padahal, kalau kita flashback (melihat ke belakang), pantai kita indah-indah, hasil laut berlimpah, serta hasil tani seperti lada dan karet, jika dikelola dengan benar, kita tidak akan menderita seperti sekarang ini. Jadi, apakah kita akan bertahan dalam pertambangan atau beralih ke sektor lain? Jawabannya ada di tangan pemimpin dan DPR kita.

​Semoga Babel tidak bernasib seperti Dabo Singkep yang menjadi pulau mati.

​Ibarat pepatah, jangan sampai masyarakat Babel seperti tikus mati di lumbung padi—hasil kekayaan kita dinikmati orang-orang pusat yang disusupi oligarki (cukong) pertambangan.

BACA JUGA:FENOMENA FAST-FOOD TERRORISM & RAN-PE 2026-2029: Menaruh Harapan pada Gerakan Bersama Menanggulangi Terorisme

BACA JUGA:Tegangnya Urat Leher Satgas Tricakti & Polisi di Belitung Soal Harta Karun Babel, Mampukah Membawa Hikmah?

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait