Ketika Ramadan Menghidupkan Ekonomi Rakyat
Siti Uswatun Hasanah--Foto IST
Meski demikian, Ramadan sering kali hanya menjadi panggung sementara bagi UMKM. Pasar ramai, penjualan meningkat, tetapi setelah Idulfitri berlalu banyak usaha kembali berjalan seperti semula tanpa peningkatan kapasitas yang berarti. Di sinilah tantangannya: ekonomi boleh bergerak secara musiman, tetapi penguatan UMKM seharusnya tidak ikut bersifat musiman.
Karena itu, lonjakan permintaan selama Ramadan perlu dibaca sebagai kesempatan untuk memperkuat fondasi usaha. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk membenahi tata kelola, menata arus kas, memperkuat modal kerja, dan meningkatkan efisiensi produksi agar usaha tidak hanya bertahan saat pasar ramai, tetapi juga lebih siap menghadapi periode setelahnya.
Pada akhirnya, Ramadan bukan hanya soal meningkatnya konsumsi masyarakat. Di Bangka Belitung, Ramadan adalah momentum ketika roda ekonomi kerakyatan berputar lebih kuat, digerakkan oleh usaha kecil, pasar-pasar lokal, dan daya beli masyarakat. Karena itu, yang perlu dijaga bukan hanya ramainya transaksi menjelang lebaran, tetapi juga bagaimana agar putaran ekonomi itu benar-benar menjadi penguat bagi UMKM dan penghidupan rakyat setelah Ramadan berakhir.
BACA JUGA:Model Manajemen Kinerja Internasional yang Adaptif dalam Lingkungan Bisnis Global
BACA JUGA:Mewaspadai Bahaya AI di Era Keuangan Digital
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
