Swasembada Pangan dan SDM Unggul

Swasembada Pangan dan SDM Unggul

Hamparan tanaman padi di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, yang mulai menguning menjelang masa panen. (ANTARA/Sumarwoto) Jakarta (ANTARA)--

BACA JUGA:Pembangkit Listrik Ramah Lingkungan untuk Daerah Terpencil

BACA JUGA:Mentan Amran Siapkan Bibit dan Olah Lahan Gratis untuk Pesantren

SDM berkualitas

Setelah memaparkan capaian di sektor pangan, Presiden menegaskan bahwa sejumlah program prioritas pemerintah telah memasuki tahap implementasi.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG), digitalisasi bantuan sosial, dan hilirisasi disebut telah berjalan dan mulai memberikan manfaat kepada masyarakat.

Program MBG menjadi salah satu wajah paling konkret dari target peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). Hingga Juli 2026, program MBG telah menjangkau 63,13 juta penerima manfaat, melalui 29.670 SPPG yang tersebar di pelosok Tanah Air.

Khusus kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, hingga Juni 2026, program MBG telah menjangkau 9.928.297 penerima manfaat. Program MBG lahir berdasarkan asumsi bahwa ukuran kemajuan bangsa harus dipusatkan pada manusia.

MBG adalah untuk mendorong lahirnya SDM unggul. Selain capaian di bidang infrastruktur, kemajuan sebuah bangsa juga bisa dilihat dari kualitas manusianya. Pembangunan sejati adalah yang inklusif, memastikan tak ada satupun anak bangsa yang tertinggal dalam meraih pendidikan dan gizi terbaiknya.

Pengalaman menunjukkan bahwa investasi pada generasi baru, dalam bidang pendidikan dan kesehatan, adalah jalan menuju masyarakat yang damai, sejahtera dan berkelanjutan.

Tanpa pendidikan dan nutrisi yang cukup, generasi baru sebagai bagian dari bonus demografi, akan sulit berkontribusi besar pada pembangunan. Generasi 2045 diharapkan memiliki kompetensi global, dengan tetap berpegang teguh pada semangat kebangsaan.

Dalam hal semangat kebangsaan kita banyak belajar pada peran dokter di awal Abad 20. Figur seperti dokter Soetomo, dokter Radjiman dan dokter Tjipto Mangunkusumo adalah figur terdepan dalam menyemai gagasan bangsa yang merdeka, yang akhirnya tercapai pada tahun 1945.

Di masa awal kemerdekaan, juga muncul sejumlah dokter dari generasi berikutnya, yang terlibat langsung dalam gejolak revolusi, melalui figur dokter Muwardi, dokter J Leimena, dokter Sukiman, dan seterusnya.

Etos yang patut diteladani dari para dokter ini adalah bahwa antara aspirasi kemerdekaan dan komitmen kesehatan bagi rakyat, ibarat dua sisi dari koin yang sama, yang selalu berjalan beriringan.

Figur seperti dokter Radjiman atau dokter Tjipto misalnya, siap turun langsung ke masyarakat ketika terjadi wabah pes, cacar dan kolera di awal abad yang lalu. Dengan terjun langsung ke masyarakat, para dokter bisa menyaksikan sendiri bagaimana ketimpangan sosial, kemiskinan, dan rendahnya kualitas kesehatan rakyat di bawah rezim kolonial.

Ada juga nama lain, seperti dokter Saleh Mangundiningrat dan dokter Oen, yang kebetulan keduanya juga berpraktik di Solo.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: