Hasil Penelitian Buktikan Kafein Bisa Perkuat Saya Ingat
Secangkir kopi--Foto IST
BABELPOS.ID - Penelitian baru yang diterbitkan dalam Neuropsychopharmacology menunjukkan bahwa hubungan antara tidur, kafein, dan fungsi otak mungkin lebih kompleks, terutama ketika tidur sudah terganggu.
Menurut siaran Eating Well pada Minggu (20/4), dalam riset itu para peneliti mempelajari 119 tikus dengan akses normal ke makanan, air, dan siklus tidur-bangun khas untuk meneliti bagaimana kurang tidur memengaruhi memori sosial dan apakah kafein berperan di dalamnya.
Mereka melakukan intervensi untuk mengevaluasi bagaimana kurang tidur memengaruhi otak dan pembentukan memori, baik dengan maupun tanpa paparan kafein.
Para peneliti secara khusus berfokus pada hipokampus, wilayah otak yang berperan penting dalam pembentukan memori.
Hasil studi menunjukkan bahwa kurang tidur mengganggu proses yang berkaitan dengan memori di otak.
Para peneliti mendapati tikus yang kurang tidur menunjukkan penurunan aktivitas di hipokampus dan peningkatan kadar reseptor adenosin A1, yang dikaitkan dengan perasaan lesu dan penurunan aktivitas neuron.
Menariknya, para peneliti menemukan bahwa kafein tampaknya membalikkan banyak efek ini.
BACA JUGA:7 Kebiasaan Pagi Ini Bisa Ganggu Jantung Kamu
BACA JUGA:Manfaat Pare Bagi Penderita Diabetes
Dalam penelitian ini, tikus yang menerima kafein menunjukkan peningkatan baik dalam fungsi otak maupun memori sosial, bahkan setelah kurang tidur.
Karena bertindak sebagai antagonis reseptor adenosin, kafein memblokir adenosin agar tidak berikatan dengan reseptor, yang dapat mengurangi pengaruh sedatifnya dan memungkinkan lebih banyak aktivitas neuron.
Adenosin adalah senyawa yang menumpuk di otak sepanjang hari dan meningkatkan rasa kantuk. Ketika berikatan dengan reseptor adenosin A1, ia memperlambat aktivitas otak.
Namun, kafein memblokir proses ini. Itulah yang membuat kafein dapat membuat orang merasa lebih waspada dan membantu mendukung fungsi memori ketika orang kurang tidur.
Kendati demikian, penting untuk dicatat bahwa penelitian ini dilakukan pada tikus, bukan manusia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
