Inversi Sumpah Pemuda: Ketika Pemuda Tak Lagi Bersumpah, Tapi Disumpahi

Rabu 28-10-2026,08:16 WIB
Reporter : Sukma Wijaya
Editor : Jal

Pemuda 1928 mencari satu bahasa untuk menyatukan banyak suku. Pemuda 2026 meracik banyak bahasa untuk menyembunyikan satu perasaan yang tak punya nama. Dulu bahasa dicari untuk menyatukan orang, kini ia dicampur untuk menyembunyikan diri agar tidak terlihat rapuh.

Nasib persatuan pun begitu. Kakek-nenek kita menyatukan ratusan suku dengan satu bahasa. Kita menyatukan miliaran jempol dengan satu algoritma, yang pekerjaan utamanya justru memastikan kita tidak pernah benar-benar sepakat. Kita semua fasih berbahasa Indonesia, tapi sering hanya untuk berdebat dengan orang yang sebenarnya sepaham.

Keberanian yang Pindah Alamat

Sumpah 1928 dibacakan dengan suara gemetar karena ujungnya bisa penjara. Sumpah 2026 dibacakan dengan lancar, lengkap dengan caption, hashtag, dan filter bendera. Keberanian tidak hilang. Ia hanya pindah alamat ke tempat yang lebih aman.

Camus menyuruh kita membayangkan Sisifus berbahagia saat menggulung batu yang terus jatuh. Pemuda hari ini hafal adegan itu di luar kepala: melamar kerja, ditolak, melamar lagi, magang tanpa dibayar, lalu dibilang kurang pengalaman. Tapi kebahagiaan Sisifus hanya sah jika batu itu memang miliknya. Jika ia disuruh mendorong batu titipan orang lain yang bahkan tak ikut mendorong, itu bukan eksistensi, itu eksploitasi.

Sartre menyebut manusia "dikutuk untuk bebas". Pemuda Indonesia adalah ilustrasi paling telak: bebas memilih jalan apa saja, terkutuk menanggung akibatnya sendirian.

Utang yang Tak Tercatat

Sumpah adalah kontrak dua arah. Bangsa yang menuntut pengabdian dari anak mudanya tanpa menyediakan ruang tumbuh sedang berutang. Utang itu tidak tercatat di APBN, tapi tercatat rapi di kelelahan satu generasi, di anxiety yang dianggap lebay, di keputusan untuk tidak menikah dan tidak punya anak karena hitungannya memang tidak masuk akal.

Maka kekhawatiran kita salah alamat jika hanya berhenti pada kosakata kotor. Bahasa yang kotor bukan ancaman terbesar republik ini.

Ancaman yang lebih besar adalah bahasa yang bersih tapi kosong. Bahasa yang penuh kata "sinergi", "kolaborasi", "transformasi" dan "Indonesia Emas" yang dilafalkan dengan fasih oleh bibir yang bahkan tidak percaya pada ucapannya sendiri. Serapah pemuda setidaknya masih berdenyut, ia marah karena masih peduli.

Sumpah yang paling berbahaya adalah yang dilafalkan dengan sempurna oleh orang yang sudah berhenti berharap.

Pemuda 1928 menciptakan Indonesia dari imajinasi. Tugas pemuda hari ini lebih sulit: menyelamatkannya dari kenyataan. Itu menuntut keberanian untuk menyumpah ulang, bukan demi bangsa yang belum ada, melainkan demi bangsa yang sudah ada tetapi belum adil.

Selamat Hari Sumpah Pemuda 2026.

BACA JUGA:Anggaran Daerah, Raja-Raja Kecil, dan Ujian Negara Kesatuan

BACA JUGA:Diperkirakan Akumulasi DBH Rp 2,7 Triliun Tertahan: Ketika Tambang Timah Jalan, Hak Babel Tertunda

Kategori :