Belajar Agama di Era Digital: Ketika Teknologi Bertemu dengan Nilai-Nilai Islam

Senin 19-10-2026,16:18 WIB
Reporter : Feni Yulianti & Shinta Lestari
Editor : Jal

Ada satu tantangan yang tidak boleh diabaikan. Di internet, siapa pun dapat membagikan ceramah, potongan ayat, pendapat keagamaan, atau penjelasan tentang suatu hukum Islam. Sebagian informasi berasal dari sumber yang dapat dipercaya, tetapi sebagian lainnya disajikan tanpa konteks yang memadai.

Potongan video berdurasi satu menit, misalnya, bisa membuat seseorang merasa telah memahami suatu persoalan agama. Padahal, penjelasan yang utuh mungkin jauh lebih panjang dan memerlukan pemahaman terhadap konteksnya.

Di sinilah peserta didik membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mencari informasi. Mereka perlu belajar membedakan sumber yang tepercaya, memeriksa kebenaran informasi, dan tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan apa yang muncul di layar.

Islam sebenarnya telah memberikan tuntunan yang sangat relevan dengan persoalan ini melalui konsep tabayyun. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, umat Islam diingatkan untuk memeriksa kebenaran suatu berita sebelum mengambil tindakan berdasarkan berita tersebut.

Pesan ini terasa dekat dengan kehidupan digital saat ini. Sebelum membagikan unggahan yang belum jelas kebenarannya, kita perlu memeriksa sumbernya. Sebelum ikut menyebarkan tuduhan, kita perlu memastikan informasinya. Dan sebelum memperdebatkan persoalan agama di kolom komentar, kita perlu memahami persoalan yang sedang dibicarakan.

Sederhananya, tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang terlihat meyakinkan layak langsung dipercaya.

Karena itu, literasi digital dalam pembelajaran agama seharusnya tidak berhenti pada keterampilan menggunakan perangkat atau mengakses internet. Literasi digital juga berarti belajar bersikap kritis, menjaga lisan dalam bentuk tulisan, menghormati perbedaan, dan bertanggung jawab atas informasi yang kita sebarkan.

Cerdas Menggunakan Teknologi, Santun dalam Bersikap

Kecakapan digital sering kali dikaitkan dengan kemampuan menggunakan aplikasi, mencari informasi, atau menghasilkan konten yang menarik. Padahal, ada hal lain yang tidak kalah penting: bagaimana seseorang bersikap ketika menggunakan teknologi.

Seseorang mungkin mahir membuat video, cepat menemukan informasi, dan aktif di berbagai platform digital. Namun, kecakapan tersebut belum tentu berjalan seiring dengan sikap santun, kejujuran, dan tanggung jawab.

Kita bisa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang yang mudah menuliskan komentar kasar karena merasa tidak berhadapan langsung dengan orang yang dikomentari. Ada pula yang membagikan informasi pribadi orang lain tanpa mempertimbangkan dampaknya. Bahkan, perbedaan pendapat yang sebenarnya dapat dibicarakan dengan baik terkadang berubah menjadi pertengkaran panjang di media sosial.

Dalam situasi seperti ini, nilai-nilai Islam dapat menjadi pedoman. Kejujuran mengajarkan kita untuk tidak memanipulasi informasi. Adab mengingatkan kita agar menjaga perkataan, termasuk ketika menulis komentar. Amanah mengajarkan tanggung jawab terhadap informasi dan kepercayaan yang diberikan kepada kita.

Nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya dijelaskan sebagai materi pelajaran. Peserta didik perlu diajak menghubungkannya dengan situasi nyata. Misalnya, bagaimana seharusnya bersikap ketika menemukan berita yang meragukan? Apa yang perlu dilakukan ketika melihat teman menjadi sasaran perundungan di media sosial? Bagaimana menyampaikan ketidaksetujuan tanpa merendahkan orang lain?

Pertanyaan sederhana seperti ini dapat membuka ruang diskusi yang bermakna. Peserta didik belajar bahwa nilai agama bukan hanya untuk dihafal, melainkan untuk menjadi pertimbangan ketika mengambil keputusan.

Namun, pembentukan karakter tentu tidak bisa diserahkan kepada teknologi semata. Guru tetap memiliki peran penting melalui keteladanan, dialog, pembiasaan, dan pendampingan. Sikap menghargai orang lain, misalnya, akan lebih mudah dipelajari ketika peserta didik juga melihat bagaimana orang dewasa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Teknologi dapat membantu menghadirkan pengalaman belajar, tetapi keteladanan dan hubungan antarmanusia tetap menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter.

Kategori :