Oleh: Feni Yulianti dan Shinta Lestari Oktarini
Dosen Pendidikan Agama Islam, Universitas Bangka Belitung
-------------------------------------
BABELPOS.ID - Pernahkah kita melihat anak muda yang begitu cepat menemukan jawaban melalui Google, menghabiskan waktu berjam-jam menonton video, atau mendapatkan pengetahuan agama dari media sosial? Bagi generasi digital, belajar tidak lagi harus duduk di kelas sambil membuka buku. Pengetahuan bisa hadir melalui layar ponsel, video singkat, podcast, hingga berbagai aplikasi pembelajaran.
Perubahan ini membawa banyak kemudahan. Materi pelajaran lebih mudah diakses, pengetahuan bisa diperoleh dari berbagai sumber, dan proses belajar tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Namun, ada satu pertanyaan yang menarik untuk direnungkan: ketika informasi semakin mudah diperoleh, apakah kita juga semakin bijak dalam menggunakannya?
Pertanyaan ini menjadi penting dalam Pendidikan Agama Islam (PAI). Sebab, belajar agama bukan hanya tentang mengetahui mana yang benar dan salah, menghafal ayat, atau memahami hukum Islam. Lebih dari itu, pendidikan agama diharapkan membentuk pribadi yang santun, jujur, bertanggung jawab, dan mampu menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berada di ruang digital.
Belajar Agama Tidak Harus Selalu dengan Cara Lama
Bayangkan sebuah kelas PAI ketika guru tidak hanya menjelaskan materi di depan kelas, tetapi juga mengajak peserta didik menonton video, mencari referensi keagamaan, berdiskusi melalui platform digital, dan menghubungkan pelajaran dengan persoalan yang mereka temui di media sosial.
Cara belajar seperti ini membuat materi agama terasa lebih dekat dengan kehidupan peserta didik. Mereka tidak hanya mendengar penjelasan guru, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengeksplorasi informasi, menyampaikan pendapat, dan belajar dari berbagai pengalaman.
Di SMAN 1 Pangkalpinang, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran PAI memperlihatkan bagaimana guru berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut. Pembelajaran digital tidak selalu harus bergantung pada perangkat yang canggih atau fasilitas yang serba lengkap. Kreativitas guru dalam memilih media, mengelola materi, dan menyesuaikan metode dengan kondisi sekolah tetap menjadi bagian penting.
Video pembelajaran, bahan bacaan digital, dan penggunaan platform daring dapat menjadi pilihan untuk memperkaya pengalaman belajar. Guru juga dapat mengombinasikan pembelajaran tatap muka dengan kegiatan digital sehingga peserta didik tetap mendapatkan pendampingan secara langsung.
Tentu saja, kreativitas bukan berarti fasilitas tidak diperlukan. Akses internet, ketersediaan perangkat, dan kemampuan menggunakan teknologi tetap perlu diperhatikan. Namun, keterbatasan tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti berinovasi. Dengan perencanaan yang tepat, teknologi sederhana pun dapat membantu menghadirkan pembelajaran yang lebih menarik dan bermakna.
BACA JUGA:Bisa Mendaftar, Belum Tentu Mendapatkan Bansos: Menguji Keadilan Perlinsos Digital
BACA JUGA:SERUMPUN SEBALAI: BUKAN SEKADAR SENAM, INI SOAL JATI DIRI
Ketika Informasi Agama Ada di Ujung Jari