Bambang Patijaya: B50 Jadi Andalan Pangkas Impor Solar

Selasa 13-10-2026,17:20 WIB
Reporter : Yudi
Editor : Govin

BABELPOS.ID, BANGKA — Indonesia mengandalkan biodiesel untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.

Melalui kebijakan pencampuran 50 persen biodiesel ke dalam solar atau B50, pemerintah diklaim mampu menghemat devisa hingga Rp170 triliun.

Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI, Bambang Patijaya, mengatakan kebijakan ini turut memperkuat ketahanan energi nasional.

Bambang Patijaya menyampaikan hal itu saat memberikan kuliah umum di hadapan sivitas akademika Institut Citra Internasional (ICI) Bangka, Selasa, 13 Oktober 2026.

BACA JUGA:Dukcapil Bangka Tengah Jemput Bola Perekaman KTP Pelajar

Menurut dia, program B50 merupakan bagian dari strategi diversifikasi energi sekaligus upaya menekan emisi karbon dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak.

Ia menjelaskan, kebutuhan solar nasional berkisar 29–32 juta kiloliter per tahun.

Melalui B50, separuh komposisi bahan bakar tersebut ditargetkan berasal dari bahan bakar nabati berbasis minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).

BACA JUGA:Pemkab Basel Imbau Warga Serdang dan Masyarakat Sekitar Gunakan Masker

“Kebijakan B50 ini luar biasa. Dari alokasi BBM solar nasional yang setahun kurang lebih 29 sampai 32 juta KL, setengahnya kita tidak mau lagi full pakai BBM fosil.

Setengahnya lagi adalah dari palm oil,” kata Bambang Patijaya, yang juga adalah Kapoksi Partai Golkar di Komisi XII DPR RI. 

Menurut Bambang, Indonesia menjadi pelopor penerapan campuran biodiesel hingga 50 persen dalam skala besar.

Ia membandingkan kebijakan tersebut dengan Malaysia, yang menurut dia masih menjajaki pencampuran biodiesel pada tingkat B10 dan B20.

BACA JUGA:PLN UPK Babel Edukasi Keselamatan Ketenagalistrikan kepada Siswa SD Bahagia Pangkalpinang

“Di dunia tidak ada satu negara pun yang mampu melaksanakan B50.

Kategori :