BABELPOS.ID - Ada anggapan di masyarakat bahwa mengonsumsi obat hipertensi dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Ternyata itu salah. Karena yang terjadi sebaliknya.
Dokter spesialis jantung konsultan aritmia dan kardiologi intervensi Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA mengatakan justru hipertensi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal sehingga pasien perlu mengonsumsi obat sesuai anjuran dokter untuk menjaga tekanan darah tetap terkendali.
"Orang Indonesia kalau ketahuan hipertensi itu bilang, 'Saya makan obat terus-terusan nanti sakit ginjal'. Padahal yang terus berhenti minum obatnya atau belang-betong (tidak teratur), dia yang sakit ginjal," kata Prof. Yoga dilansir Antara, Selasa (29/9)
Menurut Guru Besar Kardiologi dan Aritmia Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) itu, kekhawatiran tersebut dapat membuat pasien menghentikan atau tidak rutin mengonsumsi obat hipertensi sehingga tekanan darah tidak terkontrol.
BACA JUGA:Ini 5 Bumbu Dapur untuk Bantu Kendalikan Hipertensi
BACA JUGA:Kedelai dan Kacang-kacangan Ampuh Lawan Hipertensi
Ia menegaskan kerusakan ginjal pada kondisi tersebut justru berkaitan dengan hipertensi yang tidak terkendali, bukan penggunaan obat untuk mengontrol tekanan darah sebagaimana yang dikhawatirkan sebagian masyarakat.
"Yang bikin sakit ginjal, hipertensinya yang tidak terkontrol, bukan karena minum obat yang membuat tensinya jadi terkontrol dan dia jadi tidak sakit ginjal," ujarnya.
Prof. Yoga mengatakan pengendalian hipertensi penting karena penyakit tersebut sering tidak menimbulkan gejala yang dirasakan penderitanya. Kondisi itu membuat seseorang dapat mengalami tekanan darah tinggi dalam waktu lama tanpa menyadarinya.
Ia memaparkan prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai sekitar 32 persen populasi. Namun, hanya sekitar 27 persen penderita hipertensi yang terdiagnosis, sementara proporsi yang mendapatkan pengobatan lebih rendah lagi.
"Dan yang diobati yang kemudian mencapai target pengobatan, di kita cuma 4,2 persen," katanya.
Menurutnya, rendahnya proporsi pasien yang mencapai target tekanan darah perlu menjadi perhatian karena hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penting atrial fibrilasi (AF).
Ia mengatakan sekitar 50 persen pasien AF di Indonesia juga mengalami hipertensi.
Yoga juga menyebutkan bahwa satu dari lima kasus AF pada tingkat populasi berpotensi dicegah dengan mengendalikan hipertensi.
"Satu dari lima kasus AF itu bisa dicegah sebetulnya dengan cara mengontrol hipertensinya," ujarnya.