Yang sedang diperbaiki adalah naskah. Sayangnya, dalam praktiknya, kritik terhadap tulisan sering terasa seperti kritik terhadap pribadi. Di sinilah ego penulis diuji. Seorang penulis yang matang seharusnya mampu mengatakan, “Baik, saya coba lihat lagi.”
Bukan langsung mengatakan, “Tetapi saya memang sengaja menulisnya seperti itu.” Tentu saja tidak semua saran editor harus diterima mentah-mentah. Penulis tetap memiliki hak untuk mempertahankan gagasannya jika memiliki alasan yang kuat.
Namun, menolak penyuntingan sebelum memahami alasan di baliknya adalah persoalan lain. Menulis pada dasarnya adalah proses komunikasi. Kita menulis bukan hanya untuk memuaskan diri sendiri, tetapi agar gagasan kita dipahami orang lain.
Karena itu, pembaca harus menjadi pertimbangan. Jika sebuah kalimat hanya dipahami oleh penulisnya, mungkin ada yang perlu diperbaiki. Jika sebuah paragraf harus dibaca berulang kali untuk dipahami, mungkin strukturnya perlu disederhanakan.
Jika sebuah tulisan terlalu penuh dengan istilah yang tidak akrab bagi pembaca, mungkin penulis perlu mencari cara lain untuk menjelaskannya. Di sinilah orang lain berperan sebagai pembaca pertama.
Ia bisa menjadi cermin. Melalui orang lain, kita dapat mengetahui bagian mana yang terang dan bagian mana yang masih gelap. Menariknya, semakin sering seseorang menulis, semakin besar pula kebutuhan untuk memiliki orang lain yang kritis terhadap tulisannya.
Penulis pemula mungkin merasa cukup dengan membaca sendiri. Penulis yang lebih berpengalaman justru biasanya semakin sadar bahwa tulisannya tetap membutuhkan pembaca lain. Sebab pengalaman menulis tidak membuat seseorang bebas dari kesalahan.
Harus diingat, tidak ada penulis yang selalu tepat, tidak ada naskah yang tidak mungkin diperbaiki. Bahkan tulisan yang sudah dimuat di media pun kadang masih menyisakan kesalahan. Karena itu, penyuntingan bukanlah proses untuk mencari siapa yang salah, namun proses untuk mencari apa yang bisa dibuat lebih baik.
Dalam sebuah ruang redaksi, hubungan wartawan dan editor sehasrusnya dibangun dengan pemahaman seperti itu. Wartawan membawa fakta dari lapangan, tetapi editor membawa jarak dan ketelitian. Wartawan memahami peristiwa, tetapi editor membaca bagaimana peristiwa itu dipahami pembaca. Keduanya saling melengkapi.
Pada ekosistem jurnalistik modern yang serba cepat, godaan untuk mengejar kecepatan sering kali membuat kualitas tulisan terabaikan. Editor menjadi garda terdepan penjamin mutu informasi. Mereka menyaring bias, memangkas repetisi, dan memastikan etika jurnalistik tetap terjaga.
Begitu juga dalam dunia kepenulisan secara umum. Penulis mungkin memiliki gagasan yang kuat, pengalaman yang menarik, atau sudut pandang yang berbeda. Tetapi gagasan yang baik bisa kehilangan kekuatannya jika disampaikan dengan kalimat yang berbelit-belit.
Sebaliknya, penyuntingan yang baik dapat membuat gagasan sederhana menjadi terasa kuat. Karena itu, jangan terlalu cepat merasa tersinggung ketika seseorang menemukan kesalahan dalam tulisan kita. Bisa jadi, orang tersebut sedang membantu kita melihat sesuatu yang tidak mampu kita lihat sendiri.
Jadi jika ada kalimat yang perlu dipotong, kata yang perlu diganti, paragraf yang perlu dipindahkan, fakta yang perlu diperiksa, ada bagian yang sebenarnya tidak perli, dan ada pula bagian yang justru perlu diperkuat, maka semua itu tidak mengurangi nilai sebuah tulisan.
Apa yang dilakukan oleh sang editor tersebut justru sebaliknya, ia akan memperkuat naskah. Pada akhirnya, menulis bukan sekadar keberanian menuangkan pikiran. Menulis juga membutuhkan kerendahan hati untuk mengatakan bahwa tulisan kita masih mungkin diperbaiki.
Sebab setelah kita mengeluarkan kalimat "beres", pekerjaan sebenarnya belum tentu bisa dikatakan sepenuhnya selesai. Ada tahap berikutnya yang harus dilakukan, yakni membaca kembali.
Maka, jangan takut ketika naskah kita dibaca orang lain. Jangan buru-buru tersinggung ketika ada kalimat yang dicoret. Jangan merasa kemampuan menulis kita sedang dipertanyakan hanya karena editor meminta sebuah paragraf ditulis ulang.