Pegiat Literasi dan Tantangan Menulis

Jumat 18-09-2026,09:32 WIB
Reporter : Oleh Budi Rahmad/Jurnalis Babe
Editor : Oleh Budi Rahmad/Jurnalis Babe

LITERASI kerap kali dipahami sebatas kegiatan membaca. Padahal, literasi tidak berhenti pada kemampuan menerima informasi. Setelah membaca, seseorang perlu memahami, mengolah, mengkritisi, dan menyampaikan kembali gagasannya. Salah satu bentuk penyampaian gagasan yang penting adalah menulis.

Bagi pegiat literasi, menulis bukan sekadar aktivitas tambahan. Menulis merupakan bagian dari upaya membangun budaya literasi. Gagasan yang hanya tersimpan dalam pikiran akan berhenti menjadi milik pribadi. Sebaliknya, gagasan yang dituliskan dapat dibaca, didiskusikan, dikritisi, dan dikembangkan oleh orang lain.

Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan menulis menjadi semakin penting. Media sosial memungkinkan setiap orang menyampaikan pendapat dengan cepat. Namun, kecepatan tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas. Informasi yang belum terverifikasi, opini tanpa argumentasi, hingga komentar yang tidak santun mudah ditemukan.

Dalam kondisi tersebut, pegiat literasi memiliki tanggung jawab menghadirkan tulisan yang mencerahkan. Menulis bukan hanya menyusun kata-kata, melainkan menghadirkan informasi yang benar, gagasan yang bernilai, serta sudut pandang yang memperkaya pembaca.

Tantangan terbesar dalam menulis sering kali bukan kekurangan gagasan, tetapi belum adanya kebiasaan. Banyak orang ingin menulis, tetapi selalu merasa tidak punya waktu atau menganggap tulisannya belum cukup baik. Karena itu, budaya menulis perlu dimulai dari kebiasaan kecil. Tidak harus langsung menghasilkan artikel panjang. Mulailah dengan mencatat ide, menulis pengalaman, membuat satu paragraf, atau merangkum buku yang selesai dibaca.

Kegiatan menulis juga dapat tumbuh melalui komunitas. Komunitas literasi dapat menjadi ruang untuk saling memotivasi, membaca karya, memberikan masukan, dan belajar bersama. Diskusi buku, tantangan menulis mingguan, kelas menulis, hingga penerbitan buletin komunitas dapat menjadi sarana menjaga tradisi menulis.

Yang penting, jangan terlalu takut menghasilkan tulisan yang belum sempurna. Menulis adalah keterampilan yang berkembang melalui latihan. Semakin sering menulis, semakin terasah kemampuan memilih kata, menyusun gagasan, dan menemukan gaya penulisan.

Kebiasaan menulis tentu harus berjalan bersama kebiasaan membaca. Membaca memberi pengetahuan, kosakata, perspektif, dan inspirasi. Karena itu, pegiat literasi perlu memperluas bacaan sekaligus membiasakan diri mencatat informasi atau gagasan penting. Dari sinilah membaca dan menulis membentuk sebuah siklus: membaca melahirkan gagasan, gagasan melahirkan tulisan, dan tulisan melahirkan gagasan baru.

Setelah tulisan selesai, pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menemukan pembacanya. Koran dan media massa dapat menjadi salah satu ruang publikasi yang penting. Menulis untuk koran melatih penulis menyampaikan gagasan secara ringkas, aktual, argumentatif, dan relevan dengan persoalan masyarakat.

Selain media cetak, perkembangan teknologi membuka ruang yang lebih luas. Tulisan dapat dipublikasikan melalui blog, website komunitas, majalah digital, maupun media sosial. Namun, publikasi sebaiknya tidak dilakukan secara sembarangan. Penulis perlu mengenali karakter media dan pembacanya serta menyesuaikan gaya dan tema tulisan.

Penolakan dari media juga jangan dianggap sebagai kegagalan. Penolakan adalah bagian dari proses belajar. Tulisan dapat diperbaiki dan dikirim kembali ke media lain.

Pada akhirnya, pegiat literasi tidak cukup hanya mengajak masyarakat membaca. Ia juga perlu menunjukkan bahwa membaca dapat melahirkan karya. Dari buku yang dibaca, lahir gagasan. Dari gagasan lahir tulisan. Dari tulisan lahir percakapan. Dari percakapan dapat tumbuh kesadaran, dan dari kesadaran perubahan dapat dimulai.

Karena itu, jangan menunggu menjadi penulis terkenal untuk mulai menulis. Mulailah dari apa yang diketahui, dibaca, dialami, dan ingin diperbaiki. Sebab, tulisan yang sederhana sekalipun dapat menjadi gagasan yang berarti bagi orang lain.**

 

Budi Rahmad merupakan wartawan Babel Pos. Ia juga merupakan founder di Rumah Baca Spasi Pangkalpinang. Aktif dalam kegiatan Komunitas Depati Literasi. Tahun 2023 mendapat penghargaan Jurnalis Pelopor Literasi Daerah dari Pemprov Bangka Belitung. 

Kategori :