Revolusi Pertanian Nasional dari Petak Sawah Gorontalo

Senin 29-06-2026,13:07 WIB
Reporter : Aditya Ramadhan
Editor : Jal

Banten menjadi provinsi ketiga yang melaksanakan tanam perdana dengan target areal 100 hektare. Sementara di Kalimantan Selatan, pengembangan dilakukan di Kabupaten Tabalong seluas 60 hektare dan Kabupaten Barito Kuala seluas 50 hektare. Demplot-demplot tersebut menjadi laboratorium lapangan untuk melihat bagaimana teknologi yang sama beradaptasi pada kondisi agroekosistem yang berbeda. Meski demikian, PM-AAS bukan penyebab utama meningkatnya produksi beras nasional saat ini.

BACA JUGA:Mengawal Program Prioritas dengan Akal Sehat

BACA JUGA:Hemat Devisa dari B50

Visi lumbung pangan

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi beras Indonesia sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton atau meningkat lebih dari empat juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan sekitar 13 persen tersebut menjadi salah satu peningkatan terbesar dalam satu dekade terakhir dan telah melampaui kebutuhan konsumsi nasional yang berada pada kisaran 30 hingga 31 juta ton per tahun.

Menteri Pertanian, bahkan menyebut Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar keempat di dunia dengan produksi sekitar 38 juta ton.

Capaian tersebut lahir dari kombinasi berbagai kebijakan yang telah dijalankan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari penggunaan benih unggul, rehabilitasi jaringan irigasi, mekanisasi pertanian, optimalisasi lahan rawa, hingga perluasan areal tanam.

Dengan begitu, PM-AAS lebih tepat dipandang sebagai tahapan berikutnya dalam strategi peningkatan produktivitas nasional. Ketika produksi nasional mulai menunjukkan surplus, perhatian pemerintah bergeser pada bagaimana menghasilkan lebih banyak gabah dari lahan yang sama tanpa terus bergantung pada pembukaan areal baru.

Kunjungan Presiden yang turun langsung ke petak sawah di Gorontalo memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar meninjau demonstrasi teknologi.

Presiden melihat hasil panen yang sudah dicapai, sekaligus mengamati kemungkinan yang masih dapat dikembangkan. Teknologi yang kini masih diterapkan pada lahan-lahan percontohan diproyeksikan menjadi model yang dapat diperluas ke berbagai daerah apabila terbukti konsisten meningkatkan produktivitas.

Presiden Prabowo secara tegas menginginkan teknologi tersebut diperkenalkan kepada petani di seluruh Indonesia.

"Kita ingin supaya disosialisasikan, diajarkan ke semua daerah. Kita mau tiap desa bisa swasembada, tiap kecamatan swasembada, tiap kabupaten swasembada, tiap provinsi swasembada, minimal kalau bisa provinsi produksi untuk ekspor ke tempat lain. Ini kita punya strategi ke depan," ujarnya.

BACA JUGA:Menko Zulhas Paparkan Arah Kebijakan Pangan di Lemhannas

BACA JUGA:Penguatan Program Mandiri Benih untuk Atasi Kelangkaan Benih

Namun, Presiden juga mengingatkan bahwa peningkatan produksi tidak boleh berhenti sebagai pencapaian jangka pendek. Dalam pandangannya, keberhasilan itu harus dibangun sebagai sistem yang berkelanjutan, bukan sekadar fenomena yang berlangsung satu atau dua tahun.

Tantangan terbesar PM-AAS justru berada di luar petak demonstrasi. Keberhasilan di lahan percontohan memang penting sebagai pembuktian awal, tetapi tantangan sesungguhnya adalah memastikan teknologi yang sama dapat diterapkan secara konsisten dan presisi di jutaan hektare sawah Indonesia yang memiliki kondisi tanah, iklim, sumber air, hingga kapasitas petani yang sangat beragam.

Kategori :