Ketua Komisi XII Ingatkan Hilirisasi Logam Tanah Jarang Jangan Sekadar Proyek

Ketua Komisi XII Ingatkan Hilirisasi Logam Tanah Jarang Jangan Sekadar Proyek

Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya saat menjadi pembicara dalam seminar bertajuk Logam Tanah Jarang dan Mineral Strategis Lainnya: Potensi, Regulasi, Ekstraksi, dan Teknologi Hilirisasi Menuju Industri Mineral Bernilai Tambah dan Berkelanjutan.--

BABELPOS.ID, PANGKALPINANG - Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengingatkan pemerintah agar pengembangan industri logam tanah jarang (LTJ) tidak sekadar menjadi proyek, melainkan dibangun dengan memilih teknologi yang tepat agar mampu bersaing dan berkelanjutan.

"Pilih teknologi yang tepat. Tolong jangan jadi proyek. Saya terbuka, jangan seperti kasus Ausmelt," kata Bambang Patijaya saat menjadi pembicara dalam seminar bertajuk Logam Tanah Jarang dan Mineral Strategis Lainnya: Potensi, Regulasi, Ekstraksi, dan Teknologi Hilirisasi Menuju Industri Mineral Bernilai Tambah dan Berkelanjutan di Universitas Bangka Belitung, Kamis.

BACA JUGA:Polsekwas Pelabuhan Pangkalbalam Tempel Stiker Larangan Knalpot Brong di Bengkel

Menurut dia, kesalahan dalam menentukan teknologi akan membuat industri nasional menanggung biaya produksi yang tinggi dalam jangka panjang.

Ia mencontohkan penggunaan teknologi Ausmelt yang disebutnya membuat biaya peleburan timah mencapai sekitar 2.300 hingga 3.500 dolar Amerika Serikat per ton, sedangkan teknologi electric furnace yang digunakan sejumlah perusahaan swasta hanya berkisar 1.100 hingga 1.300 dolar AS per ton.

BACA JUGA:Temani Tumbuh Kembang Anak di Lingkar Tambang, PT Timah Hadirkan Dukungan dari Pendidikan hingga Kesehatan

"Keputusan yang salah dalam teknologi akan membebani kita selamanya," ujarnya.

Selain itu, Bambang juga mengingatkan pemerintah agar berhati-hati terhadap tawaran kerja sama pengolahan logam tanah jarang dari China.

Menurut dia, negara tersebut sangat protektif dalam menjaga penguasaan teknologi tanah jarang dari sektor hulu hingga hilir.

BACA JUGA:Kemenkum Latih Aparatur Tangani Tindak Pidana Terhadap Kelompok Rentan

"Kalau kita mau pakai teknologi China, kita ini dibohongi terus.

Mereka akan buying time, tidak mungkin dikasih karena ini terkait kebijakan keamanan negara mereka," katanya.

Legislator asal Daerah Pemilihan Kepulauan Bangka Belitung itu menilai Indonesia tidak boleh bergantung pada janji alih teknologi yang belum tentu dapat direalisasikan.

Ia juga menyinggung peluang kerja sama dengan Amerika Serikat terkait logam tanah jarang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait