Oleh : Robi Permana, S.H.
-------------------------------
Mengenang kelahiran Soekarno — sosok yang tidak hanya memproklamasikan kemerdekaan, tetapi juga menanamkan keberanian berpikir merdeka kepada rakyat Indonesia. Bung Karno bukan sekadar tokoh sejarah dalam buku pelajaran, ia adalah simbol keberanian melawan ketidakadilan, simbol persatuan, dan simbol mimpi besar tentang Indonesia yang berdaulat.
Hari ini, ketika Indonesia telah merdeka lebih dari delapan dekade, pertanyaan pentingnya adalah: apakah semangat kemerdekaan itu masih benar-benar hidup dalam diri bangsa ini?
Di satu sisi, Indonesia berkembang pesat. Teknologi semakin maju, pembangunan terjadi di berbagai daerah, generasi muda semakin kreatif, dan suara rakyat semakin terbuka melalui media sosial. Namun di sisi lain, kita juga menghadapi tantangan besar: ketimpangan sosial, korupsi, krisis lingkungan, polarisasi politik, hingga lunturnya rasa persatuan karena perbedaan pandangan.
Bung Karno pernah berkata, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Kalimat itu terasa sangat relevan hari ini. Musuh Indonesia modern bukan lagi penjajah bersenjata, melainkan rasa apatis, egoisme, hoaks, ketidakpedulian sosial, dan mentalitas yang lebih mementingkan kepentingan pribadi dibanding kepentingan bangsa.
Di tengah derasnya arus globalisasi, generasi muda Indonesia menghadapi tantangan identitas. Banyak yang mengenal budaya luar lebih dalam dibanding sejarah bangsanya sendiri. Padahal Bung Karno selalu menekankan pentingnya karakter dan kepribadian bangsa. Baginya, Indonesia tidak boleh kehilangan jati diri hanya demi mengikuti arus dunia.
Namun harapan itu masih ada. Kita melihat banyak anak muda mulai peduli terhadap pendidikan, lingkungan, isu kemanusiaan, dan keadilan sosial. Semangat gotong royong tetap hidup di masyarakat. Kreativitas anak bangsa terus tumbuh melalui karya, teknologi, dan gerakan sosial. Ini menunjukkan bahwa api perjuangan Bung Karno belum padam.
Mengenang kelahiran Bung Karno seharusnya bukan hanya seremoni atau unggahan nostalgia di media sosial. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita mengisi kemerdekaan dengan hal yang bermanfaat? Sudahkah kita menjaga persatuan? Sudahkah kita menjadi generasi yang berani berpikir besar untuk Indonesia?
Karena sesungguhnya, warisan terbesar Soekarno bukan hanya kemerdekaan, tetapi keberanian untuk bermimpi bahwa Indonesia bisa berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar dunia — dengan tetap berpijak pada persatuan, keadilan, dan kemanusiaan.
BACA JUGA:Quo Vadis Pendidikan Indonesia? Ketika Anak Masih Menjadi Korban Formula Sistem
BACA JUGA:Duka, Keadilan, dan Etika Komunikasi Politik di Tengah Ujian Seorang Pemimpin