Oleh: One Olivia Kusumawati
Mahasiswa Prodi manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bangka Belitung
-----------------------------------------
September 2024, Gojek keluar dari Vietnam setelah enam tahun beroperasi tanpa hasil signifikan. Nokia melepas divisi mobile pada 2013 setelah kehilangan dominasi global. Walmart mundur dari Jerman pada 2006 setelah mengalami kerugian besar. Apa permasalahan dari kasus-kasus ini? Bukan hanya karena teknologi yang kalah atau modal yang habis, tetapi juga karena kegagalan memahami konteks budaya dalam kepemimpinan global.
Ekspansi internasional sering dianggap sebagai pencapaian strategis. Namun, tanpa pemahaman mendalam tentang bagaimana budaya membentuk komunikasi, relasi, dan pengambilan keputusan, kepemimpinan global menjadi rapuh. Budaya bukan sekadar bahasa atau etiket, melainkan sistem nilai yang memengaruhi cara individu memaknai otoritas, menyampaikan ketidaksetujuan, hingga mendefinisikan profesionalisme.
Dalam banyak konteks, perbedaan ini memunculkan banyak perbedaan. Gaya komunikasi implisit dapat dianggap tidak tegas di lingkungan yang menuntut kejelasan eksplisit. Sebaliknya, pendekatan yang terlalu langsung bisa dipersepsikan agresif dalam budaya yang menjunjung harmoni. Perbedaan ini bukan sekadar kesalahpahaman komunikasi, tetapi perbedaan cara berpikir yang lebih mendasar.
Dampaknya terlihat dalam proses pengambilan keputusan. Di beberapa perusahaan di Asia, keputusan sering dibangun melalui konsensus informal, sementara dalam konteks Barat, transparansi formal dan dokumentasi lebih diutamakan. Ketika dua pendekatan ini bertemu tanpa pemahaman yang memadai, yang muncul bukan sinergi, melainkan ketidakpercayaan. Masalahnya bukan pada strategi itu sendiri, tetapi pada asumsi budaya yang melandasinya.
BACA JUGA:POLEMIK DASAR HUKUM ISLAM ANTARA ZAKAT MAAL DAN ZAKAT PROFESI
BACA JUGA:Lebaran di Negeri Timah: Antara Rezeki dan Ketimpangan
Kasus Nokia menunjukkan bagaimana homogenitas perspektif dapat menjadi risiko. Pada awal 2000-an, perusahaan ini mendominasi pasar ponsel global. Namun, ketika iPhone muncul pada 2007, respons Nokia relatif lambat. Selain faktor teknologi dan eksekusi produk, budaya organisasi yang cenderung konsensus dan berhati-hati diduga turut memperlambat pengambilan keputusan strategis. Tanpa keberagaman perspektif yang cukup kuat untuk menantang asumsi lama, perusahaan bertahan terlalu lama pada sistem yang mulai tertinggal.
Gojek di Vietnam juga memberikan pelajaran serupa. Masuk pada tahun 2018 melalui Go-Viet, perusahaan ini membawa model yang berhasil di Indonesia. Namun, preferensi konsumen Vietnam menunjukkan karakteristik berbeda, termasuk tingkat kehati-hatian dan loyalitas yang lebih tinggi terhadap platform yang sudah dipercaya seperti Grab. Selain faktor kompetisi dan strategi pasar, keterbatasan pemahaman terhadap dinamika lokal termasuk pentingnya relasi bisnis dan kepercayaan kemungkinan menjadi salah satu faktor yang menghambat penetrasi yang lebih dalam.
Dampak finansial dari kegagalan memahami konteks lokal tidak bisa diabaikan. Walmart mengalami kerugian besar di Jerman, sebagian karena pendekatan layanan yang tidak selaras dengan ekspektasi konsumen setempat. Carrefour juga akhirnya keluar dari Indonesia setelah menghadapi tantangan panjang dalam menyesuaikan model bisnisnya dengan preferensi pasar lokal. Berbagai kasus ini menunjukkan pola yang konsisten: strategi global yang tidak cukup teradaptasi dengan konteks budaya lokal berisiko gagal dalam implementasi.
Permasalahannya, banyak organisasi masih menempatkan budaya sebagai faktor sekunder. Padahal, budaya seharusnya menjadi bagian dari perencanaan strategis sejak awal. Keputusan terkait positioning, distribusi, hingga struktur organisasi perlu mempertimbangkan konteks lokal secara mendalam, bukan sekadar mengandalkan model yang berhasil di negara asal.
Upaya untuk mengatasi hal ini membutuhkan pendekatan yang lebih sistematis. Pelatihan lintas budaya perlu dirancang secara spesifik, bukan generalisasi kawasan. Pengalaman internasional juga harus bersifat imersif, bukan sekadar kunjungan singkat. Yang paling penting, organisasi perlu membangun tim kepemimpinan yang beragam dan memberikan ruang pengambilan keputusan yang nyata bagi pemimpin lokal, bukan hanya peran operasional.
Pada akhirnya, perusahaan dihadapkan pada pilihan yang jelas yaitu berinvestasi secara serius dalam memahami budaya, atau menanggung biaya kegagalan yang tidak kecil. Berbagai kasus lintas industri dan negara menunjukkan bahwa kepemimpinan global tidak cukup hanya dengan kehadiran internasional. Ia menuntut kemampuan memahami bagaimana budaya membentuk cara berpikir, berinteraksi, dan membangun kepercayaan. Tanpa itu, ekspansi global bukan hanya sulit, tetapi berisiko tinggi untuk gagal.