Bagi Om Kato, shalat bukan sekadar kewajiban, tapi obat. Bahkan saat sakit pun, ia selalu berpesan untuk melawannya dengan tegak berdiri di hadapan Sang Pencipta.
Kini, kursi-kursi di rumah duka Jl. Kampung Meleset telah tertata—sebuah "persiapan" yang anehnya sudah dilakukan sendiri oleh almarhum beberapa hari sebelum wafat, seolah ia tahu akan banyak tamu yang datang mendoakannya.
Kepergian Om Kato bukan hanya duka bagi keluarga, tapi kehilangan besar bagi warga Pangkalbalam. Namun, ada penghiburan yang kuat di balik air mata mereka: bahwa seseorang akan wafat sesuai dengan kebiasaannya. Dan Om Kato telah membuktikan, bahwa hidup yang dihabiskan untuk memanggil orang bersujud, berakhir dengan "panggilan pulang" yang paling indah.
Selamat jalan, sang Khadimullah. Adzanmu mungkin telah usai di dunia, namun gema kesalehanmu akan terus bergetar di dinding-dinding Masjid Al Ihsan.
BACA JUGA:Tekad Ketua DPRD Kejar Rp1,078 Triliun Kekurangan Bayar Royalti Timah, Akan Dipakai Untuk Ini
BACA JUGA:Gubernur Hidayat Berharap Secepatnya, Ketua DPRD Targetkan Pengesahan Perda IPR/WPR Sebelum Lebaran