Adzan Terakhir Sang Khadimullah: Catatan Husnul Khotimah dari Masjid Al Ihsan Pangkalbalam

Adzan Terakhir Sang Khadimullah: Catatan Husnul Khotimah dari Masjid Al Ihsan Pangkalbalam

Almarhum Om Kato saat mengisi salah satu pengajian semasa hidupnya. --Foto IST

BABELPOS.ID, PANGKALPINANG – Malam itu, Jumat 30 Januari 2026, udara di Kelurahan Ketapang terasa seperti biasanya. Namun, di Masjid Al Ihsan Pangkalbalam, sebuah fragmen kehidupan yang megah baru saja dituliskan oleh takdir. Suharto bin Kelempe, sang Ketua Masjid yang akrab disapa Om Kato, menutup usia dengan cara yang diimpikan setiap mukmin: dalam pelukan ibadah, tepat setelah panggilan shalat ia kumandangkan.

​Melalui rekaman CCTV yang kemudian viral, publik menyaksikan sebuah pemandangan yang menggetarkan sanubari. Om Kato berdiri tegak, melantunkan adzan Isya dengan penuh takzim. Namun, tepat di ujung kalimat panggilannya, napasnya seakan menyatu dengan ambruknya tubuh pria berusia 69 tahun itu ke lantai masjid.

Jamaah bergegas memberi pertolongan. Tubuh yang lunglai itu dilarikan ke Rumah Sakit Ranaka Gabek. Tapi takdir telah menetapkan garis finisnya di sajadah masjid, Om Kato pergi sebelum tim medis sempat menyentuhnya.

Istri tercinta, Siti Darnela kepada Babel Pos di rumah duka Jl.Kampung Meleset Kelurahan Ketapang Kecamatan Pangkalbalam mengatakan suaminya tak punya riwayat sakit. 

Dalam kesehariannya almarhum lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurus Masjid Al Ihsan dan mengelola tokonya.

"Beliau itu tidak punya riwayat sakit, sebelum meninggalkan pun beliau masih full sehat. Karena Setelah sholat Magrib malam itu, bapak masih sempat pulang ke rumah sebentar lalu balik lagi ke masjid," ujarnya, Minggu (1/2). 

BACA JUGA: Kabar Baik Untuk Pencari Kerja, BRI Buka Rekrutmen BFLP Specialist 2026, Ini Formasi dan Syaratnya

BACA JUGA:Pemilik Akun TikTok Mamak_3G Jadi Tersangka Usai Dilapor Istri Kasat Pol PP Pangkalpinang

Pasangan ini menikah pada tahun 1984 dan telah menjalani mahligai rumah tangga selama 42 tahun. Dari pernikahan itu mereka dianugerahi 3 orang anak yakni Risma Gilang, Zuli Gintang dan Zillan Zalila dan 4 orang cucu.

​Bagi jamaah Masjid Al Ihsan, Om Kato bukan sekadar ketua yang duduk di belakang meja. Ia adalah ruh dari masjid tersebut. Tangannya dingin dalam mengelola umat. Salah satu warisannya adalah Program Jumat Berkah dan pengelolaan dana donatur yang membuat masjid tetap makmur tanpa harus menguras kas utama.

​Putranya, Zuli, mengenang betapa sibuknya sang ayah belakangan ini di depan laptop. "Bapak sedang menyiapkan jadwal aktivitas Ramadan 1447 H. Beliau ingin memastikan semua siap agar masjid bisa maksimal melayani jamaah," tuturnya. Kesibukan itu kini menjadi warisan rencana yang harus dilanjutkan oleh generasi penerusnya.

​Di balik kesabarannya mengurus masjid, Om Kato adalah sosok suami yang lembut. Mak Ety -sapaan sang istri, menceritakan sisi romantis almarhum di hari-hari terakhirnya.

​"Beliau sering mengelus pipi saya, bilang saya makin cantik," kenang Mak Ety haru. Di mata keluarga, gestur itu kini dimaknai sebagai isyarat perpisahan yang manis—sebuah janji tak terucap bahwa mereka akan bertemu kembali di keabadian.

​Putrinya, Risma, menambahkan bahwa ayahnya adalah pribadi yang sangat disiplin namun penyabar.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: