Perbedaan harga antara lada utuh dan bubuk juga dipengaruhi proses pengolahan. Tingkat kemurnian, standar higienitas, serta metode penggilingan turut menentukan nilai jual.
Faktor lain yang memengaruhi harga adalah ketertelusuran produk. Lada putih dengan standar ekspor dan asal usul yang jelas cenderung memiliki daya saing lebih tinggi.
Kondisi harga ini memperkuat pentingnya hilirisasi lada putih Bangka Belitung.
Dengan pengolahan yang lebih baik, nilai tambah komoditas dapat dinikmati lebih luas oleh petani dan pelaku usaha lokal.
Ekspor ke Lima Negara
Selain pasar domestik, kinerja ekspor lada putih Babel juga tetap kuat.
Bangka Belitung kembali menunjukkan perannya sebagai sentra utama rempah putih Indonesia.
Sepanjang 2025, ekspor muntok white pepper Bangka Belitung tercatat mencapai 1,37 ribu ton.
Nilai ekonominya menembus Rp180 miliar.
Capaian tersebut menegaskan posisi lada putih Babel sebagai komoditas unggulan nasional.
Permintaan dari pasar internasional masih terjaga meski situasi global berfluktuasi.
BACA JUGA:Pemkot Dukung Pengusaha Hotel dan Resto Gerakkan Ekonomi Pangkalpinang
Aktivitas ekspor tercatat stabil dengan frekuensi pengiriman mencapai 184 kali sepanjang 2025.
Data ini menunjukkan konsistensi pasokan dan kepercayaan pasar.
Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Bangka Belitung menyebut kualitas menjadi faktor utama tingginya permintaan. Lada putih Babel dikenal memiliki aroma khas dan tingkat kepedasan yang konsisten.
Kepala BKHIT Babel, Herwintarti, menyebut lima negara menjadi tujuan utama ekspor lada putih. Negara tersebut meliputi Vietnam, Singapura, Jepang, Malaysia, dan Taiwan.